Lembaga pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings kembali mengumumkan keputusan terkait rating kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Hasilnya, peringkat kredit jangka panjang BRI tetap dipertahankan di level BBB, yang merupakan kategori investment grade. Meski begitu, outlook yang diberikan tetap negatif, sejalan dengan outlook negatif yang juga diberikan kepada pemerintah Indonesia.
Keputusan ini mencerminkan penilaian Fitch terhadap kondisi keuangan BRI yang dinilai masih kuat, terutama dari sisi permodalan dan posisi pasar. Namun, ada beberapa risiko yang masih menjadi perhatian, terutama terkait portofolio kredit yang cenderung lebih berisiko karena fokus pada nasabah mikro dan kalangan berpenghasilan rendah.
Penilaian Fitch Terhadap BRI
Fitch Ratings menilai BRI sebagai bank yang memiliki profil kredit kuat, terutama karena perannya sebagai salah satu bank pelaksana kebijakan pemerintah. Bank ini memiliki jaringan distribusi yang luas, khususnya di daerah pedesaan, serta fokus kuat pada inklusi keuangan. Namun, penilaian ini tidak serta merta mengabaikan risiko-risiko yang melekat pada model bisnisnya.
1. Penilaian Terhadap Dukungan Pemerintah
Salah satu pilar utama dalam penilaian Fitch terhadap BRI adalah ekspektasi adanya dukungan luar biasa dari pemerintah jika dibutuhkan. Ini mencerminkan posisi BRI sebagai bank BUMN dengan kepemilikan mayoritas negara dan peran strategis dalam ekosistem keuangan nasional.
2. Viability Rating (VR) BRI
Fitch memberikan Viability Rating (VR) untuk BRI di level bbb-. Ini menunjukkan bahwa secara mandiri, bank ini memiliki profil kredit yang kuat, terutama karena dominasi di segmen mikro dan profitabilitas yang tinggi. Meski begitu, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
3. Risiko Portofolio Kredit
Portofolio kredit BRI dinilai memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan bank besar lainnya. Hal ini disebabkan karena fokusnya pada nasabah mikro dan kalangan berpenghasilan rendah yang lebih sensitif terhadap perubahan ekonomi makro. Meski demikian, tingginya margin kredit mikro dianggap sebanding dengan risiko yang dihadapi.
4. Kualitas Aset dan NPL
Rasio kredit bermasalah (NPL) dan loan at risk BRI masih berada di atas rata-rata industri. Ini menjadi salah satu tantangan utama, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Namun, Fitch mencatat bahwa sebagian risiko ini tertopang oleh dukungan dari pemerintah.
5. Profitabilitas dan Margin Kredit
Fitch memperkirakan profitabilitas BRI akan tetap stabil ke depan. Ini didukung oleh margin kredit yang tinggi di segmen mikro serta biaya kredit yang mulai menurun. Meski begitu, biaya kredit BRI masih lebih tinggi dibandingkan bank lainnya.
Permodalan dan Likuiditas BRI
1. Common Equity Tier 1 (CET1)
Pada akhir Desember 2025, rasio CET1 BRI mencatatkan angka 22,4%, turun dari 25,5% di tahun sebelumnya. Meski mengalami penurunan, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan bank BUMN lainnya, menunjukkan bahwa permodalan BRI tetap kuat.
2. Dividen dan Pengembalian kepada Pemegang Saham
Fitch memperkirakan BRI akan terus membagikan dividen tinggi dalam dua tahun ke depan. Penurunan CET1 dinilai akan berlangsung secara terukur karena kemampuan pembentukan modal internal yang masih kuat.
3. Loan to Deposit Ratio (LDR)
LDR BRI terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena kontribusi dari anak usaha non-penghimpun dana. Meski begitu, profil pendanaan BRI tetap kuat karena kedekatan dengan pemerintah dan perannya sebagai penyalur kebijakan.
4. Likuiditas
Pada akhir 2025, liquidity coverage ratio (LCR) BRI mencapai 137% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 118%. Angka ini menunjukkan bahwa posisi likuiditas BRI tetap stabil dan dapat menghadapi tekanan jangka pendek.
Risiko Makro dan Dampak Terhadap Rating
1. Keterkaitan dengan Rating Sovereign Indonesia
Fitch mencatat bahwa outlook negatif BRI sejalan dengan outlook negatif yang diberikan kepada pemerintah Indonesia. Jika terjadi penurunan rating sovereign, maka sangat mungkin rating BRI juga akan mengalami penurunan.
2. Potensi Perbaikan Outlook
Sebaliknya, jika outlook sovereign Indonesia diperbaiki menjadi stabil, maka outlook BRI juga berpotensi mengikuti arah yang sama. Ini menunjukkan bahwa kinerja BRI tidak hanya ditentukan oleh internal bank, tetapi juga oleh kondisi makro ekonomi nasional.
Tabel Perbandingan Kinerja BRI dengan Bank BUMN Lain
| Indikator | BRI | Bank BUMN Lain (Rata-rata) |
|---|---|---|
| CET1 Ratio (2025) | 22,4% | 18,5% |
| NPL Ratio | Di atas rata-rata | Rata-rata industri |
| Dividen Payout Ratio | Tinggi | Bervariasi |
| LDR | Meningkat | Stabil |
| Profitabilitas | Stabil | Fluktuatif |
Disclaimer
Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi Fitch Ratings dan kondisi terkini yang dilaporkan oleh BRI. Angka-angka dan penilaian bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan pemerintah, dan kondisi internal bank. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terbaru.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













