Dana dari korporasi terus menumpuk di sejumlah bank besar sejak awal tahun 2026. Fenomena ini mencerminkan kehati-hatian para pebisnis dalam menyalurkan dana mereka untuk ekspansi bisnis, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara keseluruhan masih positif, dominasi simpanan korporasi terus meningkat dibandingkan dengan DPK ritel.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan DPK perbankan pada Februari 2026 sebesar 9,2% secara tahunan (yoy), melambat dari angka 10,8% (yoy) pada Januari. Meskipun begitu, DPK korporasi tumbuh jauh lebih signifikan, mencapai 15,9% (yoy), sedangkan DPK perorangan hanya naik 2,4% (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa dana dari sektor korporasi masih jadi tulang punggung pertumbuhan simpanan perbankan.
Dinamika Simpanan Korporasi di Tengah Perlambatan Ekonomi
Simpanan korporasi terus menunjukkan performa kuat, terutama pada jenis giro yang tumbuh 19,8% (yoy) dan tabungan korporasi yang naik 19,4% (yoy). Sementara itu, simpanan berjangka hanya tumbuh 10,1% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan cenderung memilih produk simpanan yang lebih likuid agar bisa merespons cepat jika ada peluang bisnis di masa depan.
1. Dominasi Giro dan Tabungan Korporasi
Giro korporasi menjadi instrumen paling diminati karena fleksibilitasnya. Banyak perusahaan memilih menyimpan dana dalam bentuk giro agar mudah diakses kapan saja. Tabungan korporasi juga naik signifikan, menunjukkan bahwa perusahaan tetap ingin mendapatkan imbal hasil dari dana yang disimpan, meski tetap menjaga likuiditas.
2. Simpanan Berjangka Tumbuh Lebih Rendah
Simpanan berjangka, meski masih positif, tumbuh lebih rendah dibandingkan produk lain. Ini menunjukkan bahwa korporasi lebih memilih menjaga fleksibilitas dana dibandingkan mencari return yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
3. Perbandingan DPK Korporasi vs DPK Ritel
| Jenis DPK | Pertumbuhan Februari 2026 (yoy) | Pertumbuhan Januari 2026 (yoy) |
|---|---|---|
| DPK Korporasi | 15,9% | 18,2% |
| DPK Perorangan | 2,4% | 3,2% |
Perbedaan pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat umum lebih memilih menggunakan dana mereka untuk kebutuhan langsung, sementara korporasi masih menahan dana untuk antisipasi masa depan.
Respons Bank-Bank Terhadap Lonjakan Dana Korporasi
Sejumlah bank mulai menyesuaikan strategi mereka menghadapi lonjakan dana dari korporasi. Bank seperti OK Bank dan KB Bank mengakui bahwa DPK korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan simpanan mereka.
1. OK Bank Catat Pertumbuhan DPK Korporasi 7% di Maret 2026
Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, menyatakan bahwa DPK korporasi tumbuh sekitar 7% di Maret 2026 dibandingkan akhir 2025. Sementara itu, simpanan individu hanya tumbuh kurang dari 1%. Ini menunjukkan bahwa bank-bank lebih fokus pada segmen wholesale untuk menjaga pertumbuhan simpanan.
2. KB Bank Fokus pada Pendanaan Wholesale
KB Bank mencatat pertumbuhan DPK wholesale sebesar 13,39% (yoy) hingga Maret 2026. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyebut bahwa giro korporasi dan deposito institusi menjadi penyumbang utama. Sementara itu, DPK ritel masih mengalami kontraksi karena nasabah ritel lebih banyak menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari.
3. Strategi Penawaran Suku Bunga Kompetitif
Untuk menarik lebih banyak dana korporasi, sejumlah bank menawarkan suku bunga yang kompetitif, terutama untuk produk giro dan deposito. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga likuiditas dan daya tarik terhadap nasabah korporasi.
Penyebab Menumpuknya Dana Korporasi di Perbankan
Senior Vice President LPPI, Trioksa Siahaan, menyebut bahwa tren menumpuknya dana korporasi di bank terjadi karena siklus bisnis dan kehati-hatian dunia usaha dalam melakukan ekspansi. Banyak perusahaan memilih menahan belanja modal dan menjaga likuiditas karena ketidakpastian ekonomi global.
1. Ketidakpastian Ekonomi Global
Ketidakpastian ini membuat banyak korporasi lebih memilih menyimpan dana di rekening bank daripada menyalurkannya untuk investasi atau ekspansi. Hal ini terutama terlihat pada sektor manufaktur dan ritel yang lebih sensitif terhadap fluktuasi ekonomi.
2. Inflasi dan Suku Bunga yang Tinggi
Inflasi yang belum sepenuhnya terkendali dan suku bunga acuan BI yang masih tinggi membuat dunia usaha menunda rencana investasi. Mereka lebih memilih menunggu hingga situasi ekonomi lebih stabil sebelum mengambil langkah ekspansi.
3. Perilaku Konsumsi Nasabah Ritel
Di sisi lain, nasabah ritel cenderung menggunakan tabungan mereka untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Ini membuat pertumbuhan DPK ritel lebih rendah dibandingkan DPK korporasi yang lebih stabil dan terprediksi.
Proyeksi ke Depan: Kapan Dana Korporasi Akan Berputar Lagi?
Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pekan ini. Dalam RDG tersebut, BI akan menyampaikan perkembangan ekonomi terkini, proyeksi inflasi, serta arah kebijakan suku bunga.
1. Ekspektasi Penurunan Suku Bunga
Jika hasil RDG menunjukkan prospek ekonomi yang positif dan sejalan dengan ekspektasi pelaku usaha, maka perputaran dana korporasi diperkirakan akan kembali meningkat. Penurunan suku bunga juga bisa menjadi pemicu bagi korporasi untuk mulai menyalurkan dana mereka untuk investasi.
2. Peningkatan Permintaan dan Daya Beli
Trioksa Siahaan memperkirakan bahwa jika daya beli dan permintaan barang meningkat, korporasi akan mulai menggunakan likuiditas yang selama ini disimpan untuk memperluas usaha. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama pada semester kedua 2026.
3. Harapan pada Semester Kedua 2026
"Harapannya pertumbuhan ekonomi pada semester 2 nanti akan bergairah dan naik kembali," ujar Trioksa. Ini menunjukkan bahwa meskipun saat ini dana korporasi masih mengendap, situasi ini bersifat sementara dan akan berubah seiring membaiknya kondisi makro ekonomi.
Kesimpulan
Menumpuknya dana korporasi di perbankan saat ini adalah cerminan dari kehati-hatian dunia usaha dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Meskipun DPK ritel tumbuh lebih lambat, DPK korporasi tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan simpanan perbankan. Namun, dengan ekspektasi penurunan suku bunga dan membaiknya kondisi ekonomi, diperkirakan dana korporasi akan mulai berputar kembali pada paruh kedua tahun ini.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat simulasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi ekonomi makro dan kebijakan Bank Indonesia.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













