Finansial

Tren Pertumbuhan 2026 yang Agresif Picu Kewaspadaan IdScore terhadap Risiko Gagal Bayar

Retno Ayuningrum
×

Tren Pertumbuhan 2026 yang Agresif Picu Kewaspadaan IdScore terhadap Risiko Gagal Bayar

Sebarkan artikel ini
Tren Pertumbuhan 2026 yang Agresif Picu Kewaspadaan IdScore terhadap Risiko Gagal Bayar

Industri layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal dengan istilah paylater kini tengah berada dalam fase pertumbuhan yang sangat agresif di . Namun, di balik kemudahan transaksi yang ditawarkan, muncul kekhawatiran mendalam mengenai potensi yang kian nyata.

Pefindo Biro Kredit atau IdScore memberikan peringatan keras terkait akumulasi risiko kredit pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB). Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi seluruh ekosistem keuangan untuk lebih waspada terhadap stabilitas kredit di masa depan.

Ancaman Risiko Laten pada Layanan Paylater

Pertumbuhan pesat paylater tidak lepas dari kemudahan akses yang ditawarkan kepada masyarakat. Sayangnya, kemudahan ini sering kali tidak dibarengi dengan pemahaman risiko yang memadai, sehingga menciptakan tumpukan utang yang tersembunyi.

Risiko kredit dalam ekosistem paylater bersifat laten dan cenderung terakumulasi seiring waktu. Konsentrasi risiko terbesar saat ini berada pada segmen konsumtif, terutama kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap fasilitas cicilan.

Berikut adalah beberapa faktor utama yang memicu kerentanan dalam ekosistem paylater:

  1. Dominasi Pengguna Konsumtif: Kelompok ibu rumah tangga, pekerja administrasi, serta pelajar dan mahasiswa menjadi pengguna utama yang paling rentan.
  2. Fenomena Multipayment: Banyak debitur memiliki lebih dari satu akun paylater, yang memicu risiko overleveraging tanpa terdeteksi secara agregat.
  3. Profil Debitur Thin-File: Sebagian besar pengguna merupakan individu dengan histori kredit yang minim, sehingga probabilitas gagal bayar menjadi jauh lebih tinggi.
  4. Metode Underwriting yang Terbatas: Penilaian kredit sering kali hanya berbasis perilaku konsumsi, bukan pada kemampuan bayar riil atau arus kas debitur.

Transisi menuju pola konsumsi yang lebih bijak menjadi tantangan besar bagi para penyedia layanan. Tanpa adanya perbaikan dalam metode penilaian kredit, potensi gagal bayar akan terus membayangi industri keuangan digital di tanah air.

Mengapa Risiko Gagal Bayar Terus Meningkat?

Tekanan makroekonomi menjadi faktor eksternal yang tidak bisa diabaikan dalam memetakan risiko gagal bayar. Inflasi yang fluktuatif, suku bunga yang tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah secara langsung menekan kapasitas bayar para debitur.

Selain faktor , karakteristik psikologis pengguna juga memainkan peran krusial dalam akumulasi utang. Fenomena fear of missing out (FOMO) dan doom spending di kalangan Gen Z dan milenial sering kali mendorong penggunaan paylater untuk kebutuhan yang tidak produktif.

Tabel di bawah ini merinci perbandingan pertumbuhan outstanding paylater berdasarkan sektor per Februari 2026:

Sektor Layanan Outstanding (Triliun Rupiah) Pertumbuhan Tahunan (yoy)
Multifinance Rp 13, 84,8%
Pinjaman (P2P) Rp 16,9 153,49%

Data tersebut menunjukkan betapa masifnya perputaran dana dalam industri paylater. Pertumbuhan yang melampaui batas kewajaran ini mengindikasikan adanya risiko build-up yang belum sepenuhnya tercermin dalam data agregat saat ini.

Profil Debitur yang Paling Rentan

Kelompok usia muda saat ini menjadi segmen yang paling disorot oleh IdScore. Karakteristik mereka yang berada pada fase awal dengan pendapatan tidak tetap membuat mereka sangat mudah terjebak dalam lingkaran utang.

Berikut adalah atau karakteristik yang membuat segmen debitur muda sangat berisiko:

  1. Fase Awal Karier: Memiliki pendapatan yang belum stabil namun memiliki keinginan konsumsi yang tinggi.
  2. Penggunaan Multi-Platform: Memanfaatkan banyak aplikasi paylater secara bersamaan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
  3. Frictionless Borrowing: Proses peminjaman yang sangat mudah tanpa agunan membuat pengguna sering kali tidak menyadari total akumulasi utang yang dimiliki.
  4. Kurangnya Keuangan: Ketidakmampuan dalam mengelola arus kas pribadi sering kali berujung pada gagal bayar saat jatuh tempo tiba.

Kondisi ini diperparah dengan model paylater yang cenderung tidak menghasilkan arus kas bagi penggunanya. Berbeda dengan kredit produktif, paylater justru sering digunakan untuk barang-barang konsumtif yang nilainya akan terus terdepresiasi.

Langkah Mitigasi untuk Stabilitas Industri

Untuk menekan angka non-performing financing (NPF) yang saat ini berada di kisaran 5%, diperlukan langkah konkret dari penyedia layanan. Perbaikan sistem underwriting menjadi prioritas utama agar penilaian terhadap calon debitur lebih akurat dan mencerminkan kemampuan bayar yang sebenarnya.

Selain itu, edukasi keuangan bagi pengguna muda harus ditingkatkan secara masif. Membangun kesadaran bahwa paylater bukanlah tambahan pendapatan, melainkan utang yang wajib dibayar, menjadi kunci untuk mencegah krisis gagal bayar yang lebih luas.

Pihak otoritas dan lembaga pemeringkat kredit terus memantau pergerakan ini dengan ketat. Stabilitas industri keuangan digital sangat bergantung pada kedisiplinan penyedia layanan dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat.


Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan didasarkan pada laporan per Februari 2026. , kebijakan industri, dan angka statistik dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan dinamika pasar dan regulasi yang berlaku. Keputusan keuangan sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.