Industri perbankan nasional kini tengah bersiap menghadapi dinamika likuiditas yang diprediksi bakal lebih menantang pada paruh kedua tahun 2026. Berbagai bank besar mulai mengambil langkah antisipatif dengan melakukan penataan ulang strategi pendanaan demi menjaga stabilitas fundamental bisnis.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Maret 2026 menunjukkan rasio kredit terhadap pendanaan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 84,65%. Angka ini tergolong cukup longgar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang menyentuh 87,77%.
Tantangan Likuiditas di Semester Kedua
Kondisi likuiditas yang tampak tenang saat ini tidak membuat pelaku industri lengah. Analisis ekonomi menunjukkan adanya potensi tekanan yang muncul dari sisi fiskal maupun neraca pembayaran internasional.
Pemotongan anggaran fiskal pemerintah untuk mengompensasi tambahan subsidi menjadi salah satu faktor yang diwaspadai. Padahal, belanja pemerintah selama ini menjadi kontributor utama dalam menjaga pasokan uang beredar di pasar.
Selain itu, risiko dari sektor valuta asing juga membayangi perbankan. Defisit transaksi berjalan yang melebar berpotensi membatasi suplai dolar, sehingga perbankan harus lebih cermat dalam mengelola cadangan likuiditas valas mereka.
Berikut adalah rincian perbandingan kondisi likuiditas dan strategi bank besar di awal tahun 2026:
| Bank | Posisi LDR (Q1-2026) | Fokus Strategi |
|---|---|---|
| BNI | 83,46% | Menjaga LDR di bawah 90% |
| BRI | Terjaga | Penguatan CASA via kanal digital |
| CIMB Niaga | 85% – 90% | Fokus pada giro dan efisiensi |
Tabel di atas menunjukkan bahwa bank-bank besar cenderung menjaga rasio LDR mereka di level yang aman. Langkah ini diambil sebagai bantalan agar bank memiliki ruang gerak yang cukup saat kondisi ekonomi menjadi lebih menantang di masa depan.
Strategi Pendanaan Perbankan
Menghadapi ketidakpastian pasar, bank-bank besar memiliki pendekatan yang berbeda namun dengan tujuan yang sama, yakni memperkuat struktur pendanaan. Fokus utama perbankan saat ini adalah memupuk dana murah atau Current Account Saving Account (CASA).
1. Optimalisasi Dana Murah
Perbankan secara konsisten mengejar pertumbuhan dana murah untuk menekan biaya dana atau cost of fund. Dengan struktur pendanaan yang efisien, margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) dapat terjaga dengan lebih baik.
2. Digitalisasi Kanal Transaksi
Penguatan basis dana murah kini tidak lagi hanya mengandalkan kantor cabang fisik. Penggunaan kanal digital menjadi ujung tombak dalam menghimpun giro dan tabungan dari nasabah ritel maupun korporasi.
3. Penyesuaian Terhadap Aturan DHE
Adanya kebijakan baru mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam yang mewajibkan penempatan dana di bank milik negara menjadi tantangan tersendiri bagi bank swasta. Bank swasta kini harus lebih kreatif mencari sumber pendanaan valas alternatif untuk menutupi potensi kehilangan likuiditas dari sektor tersebut.
Dampak pada Ekspansi Kredit
Meskipun likuiditas yang terlalu longgar dapat membuat margin bunga bersih menjadi kurang optimal karena adanya dana menganggur, bank tetap memilih untuk berhati-hati. Strategi ini dianggap sebagai investasi jangka panjang agar bank tetap tangguh saat permintaan kredit kembali meningkat.
Saat ini, permintaan kredit di pasar memang masih menunjukkan tren yang cenderung lemah. Namun, dengan buffer likuiditas yang sudah dipupuk sejak awal tahun, perbankan merasa lebih percaya diri untuk melakukan ekspansi yang lebih agresif dan efisien ketika kondisi pasar sudah lebih menguntungkan.
Efisiensi struktur pendanaan menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Dengan biaya dana yang rendah, perbankan memiliki ruang yang lebih luas untuk memberikan penawaran kredit yang kompetitif tanpa harus mengorbankan profitabilitas perusahaan secara keseluruhan.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Data yang tercantum merujuk pada kondisi pasar per kuartal I-2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kebijakan ekonomi, regulasi pemerintah, serta dinamika pasar keuangan global. Keputusan investasi atau kebijakan keuangan harus didasarkan pada analisis mendalam dan konsultasi dengan pihak profesional.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













