Finansial

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Awal Tahun 2026 Masih Belum Maksimal, Perbankan Prioritaskan Kualitas Pembiayaan

Herdi Alif Al Hikam
×

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Awal Tahun 2026 Masih Belum Maksimal, Perbankan Prioritaskan Kualitas Pembiayaan

Sebarkan artikel ini
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Awal Tahun 2026 Masih Belum Maksimal, Perbankan Prioritaskan Kualitas Pembiayaan

Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di awal tahun 2026 belum mencapai level optimal. Meski begitu, sejumlah bank tetap menjaga komitmen untuk mendukung UMKM dengan tetap memperhatikan kualitas kredit. Ketidakpastian dan dinamika permintaan di lapangan menjadi tantangan tersendiri.

Realisasi KUR nasional sepanjang 2025 mencapai Rp 270 triliun, atau sekitar 96% dari target Rp 280 triliun. Tahun ini, pemerintah menaikkan plafon menjadi Rp 308,41 triliun. Namun, di kuartal pertama 2026, penyaluran masih berjalan pelan, terutama di beberapa bank daerah dan BUMD.

Bank Besar Terus Salurkan KUR, Fokus pada Sektor Produktif

Penyaluran KUR di awal tahun ini masih didominasi oleh bank-bank besar, terutama BUMN. Mereka tidak hanya fokus pada penyaluran, tapi juga pada kualitas dan dampak ekonomi dari kredit tersebut.

1. BRI Salurkan Rp 31,42 Triliun, Sektor Pertanian Jadi Penopang Utama

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat penyaluran KUR sebesar Rp 31,42 triliun hingga Februari 2026. Angka ini setara dengan 17,46% dari total alokasi tahun ini sebesar Rp 180 triliun. Penyaluran telah menjangkau sekitar 643 ribu debitur UMKM di seluruh Indonesia.

Sektor produksi menjadi penerima terbesar, dengan kontribusi 64,13% dari total penyaluran. Sektor pertanian menyumbang Rp 13,25 triliun atau 42,18% dari total nilai. Ini menunjukkan bahwa BRI terus mendukung nasional melalui pembiayaan UMKM di sektor riil.

2. Bank Mandiri Salurkan Rp 7,35 Triliun, Fokus ke Sektor Produksi

Bank Mandiri menyalurkan KUR sebesar Rp 7,35 triliun kepada 59.327 hingga Februari 2026. Ini sekitar 17,92% dari target tahunan sebesar Rp 41 triliun. Sektor produksi kembali menjadi prioritas, menyumbang 61,83% dari total penyaluran, dengan sektor pertanian mencatat nilai Rp 2,21 triliun.

Bank Mandiri juga menjaga kualitas kredit dengan rasio NPL KUR tetap di bawah 1%. Pendekatan ekosistem berbasis rantai nilai menjadi andalan untuk menjaga kualitas portofolio.

3. BNI Catat Realisasi Rp 1,7 Triliun, Sektor Perdagangan Dominan

PT Bank Negara Indonesia Tbk mencatat penyaluran KUR sebesar Rp 1,7 triliun kepada 7.607 debitur hingga Februari 2026. Realisasi ini dinilai masih sejalan dengan target tahunan. Sektor menjadi penerima terbesar, meski sektor pertanian, , dan jasa juga turut disalurkan.

BNI mencatat rasio NPL KUR sebesar 2,70%, dan berkomitmen menjaga angka tersebut tetap stabil. Digitalisasi proses kredit menjadi salah satu strategi untuk mempercepat penyaluran.

Bank Daerah Hadapi Tantangan Awal Tahun

Berbeda dengan bank besar, beberapa bank daerah mengakui bahwa penyaluran KUR di awal tahun ini belum optimal. Faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi dan menjadi penghambat.

1. BPD DIY Catat Realisasi Baru Rp 194,2 Miliar

Bank BPD DIY mencatat realisasi KUR sebesar Rp 194,2 miliar dari total kuota Rp 1,2 triliun hingga 27 Maret 2026. Penyaluran yang belum optimal dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi yang berdampak pada perkembangan usaha UMKM.

Direktur BPD DIY, R Agus Trimurjanto, menyebut bahwa sejumlah sektor seperti perdagangan, akomodasi, pertanian, dan pariwisata masih memiliki potensi. Namun, bank perlu memperkuat strategi melalui peningkatan kualitas SDM dan selektivitas dalam penyaluran.

2. Rasio NPL Naik, Bank Tetap Optimis

Rasio NPL KUR BPD DIY meningkat dari 2,69% pada Desember 2025 menjadi 3,1% pada Januari 2026. Meski demikian, bank optimis bisa menekan kembali angka tersebut di bawah 3% seiring pemulihan aktivitas ekonomi dan peningkatan kualitas portofolio.

OJK Soroti Kondisi Penyaluran dan Risiko Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa kinerja penyaluran KUR, khususnya di bank Himbara, masih terjaga baik. Namun, OJK juga mengingatkan bahwa penyaluran kredit UMKM bersifat siklikal dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi serta permintaan kredit dari segmen UMKM.

1. Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, sejumlah faktor risiko seperti penurunan daya beli masyarakat dan perlambatan ekonomi sektor riil dapat meningkatkan rasio kredit bermasalah. Ini berdampak langsung pada usaha kecil yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi.

2. Bank Diminta Tingkatkan Manajemen Risiko

OJK menyarankan bank untuk memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas portofolio, serta membentuk pencadangan yang memadai. Bank juga diberi ruang untuk melakukan kredit bagi debitur yang masih memiliki prospek usaha, sebagai langkah menjaga kualitas kredit tanpa menghambat pemulihan .

Strategi Bank Menjaga Kualitas Kredit di Tengah Ketidakpastian

Di tengah ketidakpastian ekonomi, bank tidak hanya fokus pada penyaluran, tapi juga pada kualitas kredit. Berikut beberapa langkah strategis yang diambil oleh sejumlah bank:

  • Penerapan prinsip manajemen risiko yang ketat
  • Digitalisasi proses kredit untuk meningkatkan akurasi dan kecepatan
  • Peningkatan pendampingan terhadap debitur
  • Kolaborasi dengan instansi pemerintah dan komunitas usaha
  • Pembentukan cadangan kredit bermasalah (CKPN) yang memadai

Tabel Realisasi KUR Awal 2026 dari Beberapa Bank

Bank Realisasi (hingga Feb/Mar 2026) Target Tahunan Persentase Realisasi
BRI Rp 31,42 triliun Rp 180 triliun 17,46%
Bank Mandiri Rp 7,35 triliun Rp 41 triliun 17,92%
BNI Rp 1,7 triliun 104% (alokasi)
BPD DIY Rp 194,2 miliar Rp 1,2 triliun 16,18%

Disclaimer: Data bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan realisasi di lapangan.

Penyaluran KUR awal 2026 memang belum optimal, terutama di beberapa bank daerah. Namun, bank-bank besar seperti BRI, Mandiri, dan BNI terus berupaya menjaga kualitas kredit sambil mempercepat penyaluran. Dengan dukungan kebijakan dari OJK dan strategi yang tepat, diharapkan penyaluran KUR bisa meningkat di kuartal-kuartal berikutnya.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.