BBCA baru saja mengambil langkah strategis yang bisa jadi pemicu sentimen positif di pasar modal. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar belum lama ini, bank paling profitabel di Tanah Air ini menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 41,3 triliun. Tak hanya itu, rencana buyback senilai maksimal Rp 5 triliun juga disetujui, sebagai bagian dari upaya menjaga nilai perusahaan dan memberikan imbal hasil tambahan bagi pemegang saham.
Jumlah dividen yang disetujui itu setara dengan 72% dari laba bersih BBCA di tahun buku 2025 yang mencapai Rp 57,5 triliun. Artinya, setiap pemilik saham bakal menerima pembayaran sebesar Rp 336 per saham. Sebelumnya, BBCA juga telah membagikan dividen interim sebesar Rp 55 per saham pada Desember lalu. Dengan begitu, sisa pembayaran final yang akan diterima pemegang saham mencapai sekitar Rp 281 per saham.
Presiden Direktur BBCA, Hendra Lembong, mengungkapkan bahwa bank ini berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang 2026. Langkah ini diambil untuk memberikan arus kas yang lebih merata kepada investor, sekaligus menunjukkan konsistensi kinerja keuangan BBCA yang solid di tengah ketidakpastian makro ekonomi global.
Rencana Buyback Saham BBCA
Selain dividen, keputusan buyback saham senilai hingga Rp 5 triliun juga menjadi sorotan. Buyback biasanya dilakukan untuk meningkatkan nilai saham, mengurangi jumlah saham beredar, dan memberikan return langsung kepada investor. Langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa manajemen percaya terhadap valuasi internal saham BBCA, serta berkomitmen menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar.
Proyeksi Kinerja BBCA di Tahun 2026
Dari sisi operasional, BBCA menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8% hingga 10% di tahun ini. Target net interest margin (NIM) juga diproyeksikan berada di kisaran 5,4% hingga 5,6%, dengan cost of credit sekitar 0,4% hingga 0,5%. Angka-angka ini menunjukkan bahwa bank ini tetap menjaga efisiensi operasional dan kualitas asetnya, meski berada di tengah tekanan likuiditas global dan perlambatan ekonomi domestik.
Rekomendasi Saham dari Analis
Akhmad Nurcahyadi dari KB Valbury Sekuritas kembali mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Target harga yang ditetapkan mencapai Rp 11.080 per saham dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. Ia menilai bahwa fundamental BBCA tetap kuat, terutama dari sisi kemampuan mencetak laba yang stabil, efisiensi biaya, serta daya tarik dividen yang konsisten.
Menurut Akhmad, beberapa faktor utama yang mendukung rekomendasi beli ini adalah:
- Keunggulan dalam bisnis transactional banking yang sulit ditiru
- Biaya dana yang tetap rendah
- Pendapatan non-bunga yang solid
- Efisiensi operasional yang terjaga
- Pencadangan kredit yang baik
Meski sentimen pasar saat ini masih belum sepenuhnya pulih, potensi re-rating saham BBCA masih terbuka lebar. Apalagi dengan tren penurunan biaya dana dan imbal hasil kredit yang relatif stabil, kinerja laba bank ini diproyeksikan tetap tumbuh di tahun 2026.
Perbandingan Dividen dan Buyback Saham BBCA
Berikut rincian pembagian dividen dan rencana buyback BBCA:
| Jenis | Jumlah | Catatan |
|---|---|---|
| Dividen Interim (Des 2025) | Rp 55/saham | Sudah dibayarkan |
| Dividen Final | Rp 281/saham | Akan dibayarkan |
| Total Dividen | Rp 336/saham | Setara Rp 41,3 triliun |
| Buyback Saham | Maksimal Rp 5 triliun | Disetujui dalam RUPST |
Strategi Dividen Interim di 2026
BBCA berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini. Langkah ini tidak hanya memberikan kepastian cash flow bagi investor, tapi juga menunjukkan bahwa bank ini memiliki likuiditas yang sehat dan arus kas yang stabil. Pembayaran dividen secara bertahap ini juga bisa mengurangi tekanan pada harga saham saat pasar sedang tidak kondusif.
Potensi Saham BBCA di Tengah Buyback dan Dividen
Dengan kombinasi antara pembayaran dividen yang besar dan rencana buyback, BBCA menunjukkan bahwa bank ini tidak hanya fokus pada pertumbuhan aset, tapi juga pada pemberian nilai tambah langsung kepada pemegang saham. Saham-saham blue chip seperti BBCA kerap menjadi pilihan utama investor jangka panjang karena konsistensi kinerjanya.
Namun, tetap perlu diingat bahwa investasi di pasar modal memiliki risiko. Meski fundamental BBCA kuat, pergerakan harga saham tetap dipengaruhi oleh faktor makro ekonomi, likuiditas global, dan sentimen pasar secara umum.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar, kebijakan perusahaan, serta regulasi yang berlaku. Keputusan investasi sebaiknya selalu didasarkan pada analisis mandiri atau konsultasi dengan profesional terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













