Permintaan genteng di pasar nasional kian meningkat seiring dengan program gentengisasi yang digagas pemerintah. Tak hanya menjadi kebijakan pembangunan, program ini juga membawa dampak nyata bagi pelaku usaha kecil, terutama pengrajin genteng tradisional di berbagai daerah. Salah satunya adalah Hj. Nurhasanah, seorang pengrajin genteng di Majalengka yang kini banjir pesanan dari berbagai kota besar di Jawa.
Sentra produksi genteng keluarga Nurhasanah yang telah berdiri puluhan tahun ini kini makin sibuk. Pesanan datang dari Jakarta, Bandung, hingga Tegal. Permintaan yang terus naik membuat usaha ini harus ekstra kerja untuk memenuhi target pasar. Namun, di balik kesibukan tersebut, ada satu hal yang membuat segalanya bisa berjalan lancar: akses permodalan yang didapat melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
Dampak Gentengisasi pada UMKM Lokal
Program gentengisasi yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto membawa dampak langsung pada sektor UMKM, khususnya pengrajin genteng. Permintaan pasar yang meningkat bukan hanya memberi peluang omzet lebih tinggi, tapi juga mendorong pertumbuhan lapangan kerja dan produksi lokal.
Di Majalengka, salah satu sentra genteng terbesar di Jawa Barat, banyak pengusaha kecil mulai merasakan manfaatnya. Salah satunya adalah usaha milik Nurhasanah yang kini mempekerjakan sekitar 150 orang. Meski begitu, jumlah ini masih belum mencukupi mengingat pesanan yang terus bertambah.
1. Meningkatnya Permintaan Pasar
Permintaan genteng meningkat seiring dengan program pembangunan rumah dan revitalisasi hunian di berbagai wilayah. Genteng menjadi salah satu komponen penting dalam proyek-proyek tersebut. Dengan harga yang kompetitif dan kualitas terjaga, genteng produksi lokal seperti dari Majalengka mulai diminati pasar lebih luas.
2. Tantangan Tenaga Kerja
Salah satu tantangan utama yang dihadapi pengrajin genteng adalah keterbatasan tenaga kerja. Banyak generasi muda lebih memilih bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan. Akibatnya, sebagian besar pekerja di pabrik genteng masih berusia lanjut.
3. Peran KUR BRI dalam Meningkatkan Produksi
Untuk mengatasi berbagai kendala produksi, akses permodalan menjadi kunci utama. Program KUR BRI memberikan solusi yang tepat sasaran. Dengan proses yang relatif mudah dan suku bunga yang terjangkau, pengrajin seperti Nurhasanah bisa mengembangkan usahanya tanpa terkendala dana.
Peran BRI dalam Mendukung Program Gentengisasi
Sebagai bank pelaksana utama program KUR, BRI terus berkomitmen mendukung pengembangan UMKM, termasuk pengrajin genteng. Dukungan ini tidak hanya berupa pembiayaan, tapi juga pengembangan ekosistem yang menghubungkan produsen dengan konsumen.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa bank ini siap menjadi jembatan antara pengrajin dan pembeli. Dengan adanya kontrak kerja antara pengrajin dan pengembang perumahan, BRI dapat memberikan pembiayaan yang memastikan produksi berjalan lancar.
1. Pembiayaan Produksi Berkelanjutan
Melalui KUR, BRI memberikan pinjaman yang digunakan untuk membeli bahan baku, perawatan mesin, hingga penambahan tenaga kerja. Hal ini memungkinkan pengrajin untuk terus memenuhi pesanan tanpa terhenti karena keterbatasan modal.
2. Penguatan Ekosistem Pasar
BRI tidak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tapi juga sebagai fasilitator ekosistem pasar. Bank ini membantu menghubungkan pengrajin dengan pengembang, kontraktor, dan distributor genteng. Dengan begitu, alur distribusi menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
3. Akses Mudah dan Cepat
Program KUR BRI dirancang agar mudah diakses oleh pelaku UMKM. Proses pengajuan yang disederhanakan dan waktu pencairan yang cepat membuat pengrajin bisa langsung menggunakan dana untuk kebutuhan produksi.
Strategi Pengembangan Usaha Genteng di Era Gentengisasi
Menghadapi peluang besar yang dibuka program gentengisasi, pengrajin genteng perlu memiliki strategi pengembangan usaha yang jelas. Dari sisi produksi hingga pemasaran, semuanya harus disesuaikan agar bisa bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
1. Peningkatan Kapasitas Produksi
Salah satu langkah awal adalah meningkatkan kapasitas produksi. Dengan mesin press yang dimiliki, usaha genteng Nurhasanah saat ini mampu memproduksi sekitar 16.000 keping per minggu. Namun, angka ini masih bisa ditingkatkan dengan penambahan mesin atau peningkatan efisiensi kerja.
2. Peningkatan Kualitas Produk
Selain jumlah, kualitas genteng juga menjadi pertimbangan utama konsumen. Pengrajin perlu memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang tinggi, mulai dari ketahanan hingga tampilan.
3. Pemanfaatan Teknologi dalam Pemasaran
Di era digital, pemasaran online menjadi salah satu cara efektif menjangkau pasar lebih luas. Media sosial, website, dan marketplace bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan produk genteng secara lebih luas.
Tabel Perbandingan Produksi Sebelum dan Sesudah Akses KUR
| Aspek | Sebelum Akses KUR | Sesudah Akses KUR |
|---|---|---|
| Kapasitas Produksi | 10.000 keping/minggu | 16.000 keping/minggu |
| Jumlah Pekerja | 100 orang | 150 orang |
| Omzet Bulanan | Rp 50 juta | Rp 150 juta |
| Akses Modal | Terbatas | Terjamin |
| Pemasaran | Lokal | Luar daerah |
Kesimpulan
Program gentengisasi membuka peluang besar bagi pengrajin genteng tradisional di Indonesia. Dengan dukungan permodalan dari KUR BRI, usaha kecil seperti milik Hj. Nurhasanah bisa berkembang pesat dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. BRI, sebagai mitra strategis, terus berperan dalam memperkuat ekosistem UMKM dan memastikan program ini bisa dirasakan manfaatnya secara nyata oleh pelaku usaha lokal.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat referensial dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan yang berlaku.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













