Dunia saat ini tengah diwarnai oleh berbagai ketegangan geopolitik yang berdampak pada stabilitas pasokan energi global. Perang Rusia-Ukraina, konflik Israel-Palestina, hingga ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia menjadi pemicu utama ketidakpastian di pasar minyak dunia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa semua negara, termasuk Indonesia, merasakan dampaknya.
Salah satu titik kritis yang paling terpengaruh adalah Selat Hormuz. Jalur strategis ini dilalui oleh sekitar 21 juta barel minyak per hari. Gangguan di kawasan ini bisa langsung memengaruhi harga minyak mentah global dan ketersediaan energi di banyak negara. Meski begitu, Indonesia punya strategi sendiri untuk menghadapi gejolak ini.
Dampak Geopolitik pada Pasokan Energi Global
Ketegangan di kawasan Timur Tengah bukan hanya soal angka. Ini soal ketergantungan. Banyak negara bergantung pada pasokan minyak dari kawasan ini. Ketika konflik terjadi, produksi dan distribusi minyak terganggu. Harga pun naik. Efeknya dirasakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Bahlil menjelaskan bahwa Indonesia sendiri memproduksi sekitar 605 ribu barel minyak per hari. Tapi konsumsi nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Artinya, ada kebutuhan impor sekitar satu juta barel per hari. Tapi impor ini bukan berarti Indonesia rentan. Ada strategi di baliknya.
Kebutuhan dan Impor BBM Nasional
Impor BBM di Indonesia tidak serta merta membuat negara ini rentan terhadap gejolak geopolitik. Fokusnya adalah pada jenis BBM yang diimpor dan dari mana asalnya.
Solar, misalnya, sudah dipenuhi dari produksi dalam negeri. Pemerintah bahkan mendorong penggunaan biodiesel hingga B40 dan berpotensi naik ke B50. Ini mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor.
Lalu, bagaimana dengan bensin? Kebutuhan nasional mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Produksi sebelum hadirnya RDMP Balikpapan sekitar 14,5 juta kiloliter. Dengan tambahan kapasitas dari kilang baru, produksi bisa naik hingga 20 juta kiloliter. Artinya, impor bensin pun bisa ditekan.
1. Minyak Mentah Impor dari Timur Tengah
Minyak mentah masih menjadi komoditas impor utama. Indonesia mengimpor dari berbagai negara, termasuk Afrika, Amerika Latin, dan kawasan Asia Pasifik. Dari kawasan Timur Tengah, impor mencapai 20 hingga 25 persen dari total kebutuhan nasional.
2. Impor Bukan Berarti Ketergantungan
Meski impor minyak mentah dari Timur Tengah ada, itu tidak berarti Indonesia langsung terkena imbas konflik di kawasan. Minyak mentah ini diolah di dalam negeri, bukan diimpor dalam bentuk BBM jadi. Artinya, risiko gangguan pasokan lebih kecil.
3. Kilang Balikpapan Tingkatkan Produksi Dalam Negeri
RDMP Balikpapan menjadi salah satu andalan dalam meningkatkan produksi BBM dalam negeri. Dengan kapasitas tambahan 5,5 juta kiloliter per tahun, Indonesia bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi.
Strategi Jangka Panjang Indonesia
Pemerintah tidak hanya fokus pada pengurangan impor. Ada langkah jangka panjang untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga.
1. Dorong Biodiesel B40 dan B50
Biodiesel menjadi salah satu solusi jangka panjang. Dengan target B40 dan potensi naik ke B50, penggunaan solar impor bisa dikurangi. Ini juga mendukung program ramah lingkungan.
2. Diversifikasi Sumber Impor
Impor minyak mentah tidak hanya dari satu kawasan. Indonesia mengimpor dari Afrika, Amerika Serikat, Brasil, hingga Australia. Diversifikasi ini mengurangi risiko jika satu jalur terganggu.
3. Pengembangan Kilang Minyak
Kilang baru seperti RDMP Balikpapan adalah bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi BBM dalam negeri. Ini akan terus dilanjutkan di kilang-kilang lainnya.
Tabel Impor dan Produksi BBM Indonesia
| Jenis BBM | Produksi Dalam Negeri | Impor | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Solar | 39 juta kiloliter/tahun | – | Dipenuhi dari dalam negeri |
| Bensin | 20 juta kiloliter/tahun | 20 juta kiloliter/tahun | Sebagian besar dari produksi baru |
| Minyak Mentah | – | 20-25% dari kebutuhan | Dari berbagai negara, termasuk Timur Tengah |
Penutup
Meski dunia tengah dilanda ketegangan geopolitik, Indonesia punya strategi kuat untuk menjaga ketersediaan energi nasional. Dengan pengembangan kilang, peningkatan produksi biodiesel, dan diversifikasi sumber impor, risiko ketergantungan bisa diminimalkan. Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia tidak dalam posisi rentan, selama strategi ini terus dijalankan dengan konsisten.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika geopolitik dan kebijakan energi nasional.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













