PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI menargetkan pendanaan sebesar Rp 24 triliun pada tahun 2026. Dana ini akan digunakan untuk mendukung pembiayaan sejumlah proyek infrastruktur strategis di berbagai sektor, khususnya yang berorientasi pada keberlanjutan.
Target pendanaan ini disampaikan langsung oleh Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti. Ia menyebut bahwa upaya penggalangan dana ini tengah berlangsung aktif sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan investasi proyek-proyek infrastruktur yang sedang dikembangkan.
Fokus pada Infrastruktur Berkelanjutan
SMI menempatkan fokus utama pada pembiayaan proyek-proyek infrastruktur berkelanjutan. Di antaranya adalah pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan energi surya, serta pengembangan infrastruktur telekomunikasi. Langkah ini selaras dengan arah kebijakan nasional yang mendorong transisi menuju ekonomi hijau dan ramah lingkungan.
Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansyah, menjelaskan bahwa perusahaan tidak membatasi diri pada satu jenis proyek tertentu. Sebaliknya, SMI terbuka terhadap berbagai peluang proyek berkelanjutan, terutama di sektor energi terbarukan.
"Proyek-proyek yang kami garap cukup merata dan beragam. Kami tidak memprioritaskan satu proyek spesifik saja," ujar Reynaldi.
1. Pengembangan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan
Salah satu bidang utama yang menjadi prioritas adalah pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Ini mencakup proyek-proyek mikrohidro, PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), dan energi angin.
2. Infrastruktur Telekomunikasi
Selain energi, SMI juga melirik pengembangan infrastruktur digital. Termasuk di dalamnya adalah pembangunan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optik yang mendukung konektivitas di wilayah pelosok.
3. Pengelolaan Sampah dan Air Limbah
Infrastruktur pengelolaan sampah dan air limbah juga masuk dalam radar SMI. Proyek ini penting untuk mendukung keberlanjutan lingkungan, terutama di kawasan perkotaan yang sedang berkembang pesat.
Komposisi Pendanaan Mayoritas Bersumber dari Rupiah
Dalam hal pendanaan, mayoritas sumber dana proyek SMI bersumber dari dalam negeri, yaitu menggunakan mata uang rupiah. Hanya sekitar 25 persen dari total pendanaan yang bersumber dari luar negeri.
Strategi ini diambil untuk menjaga stabilitas struktur keuangan perusahaan. Selain itu, penggunaan rupiah juga membantu menghindari risiko fluktuasi nilai tukar yang bisa memengaruhi beban bunga dan biaya proyek.
Aradita Priyanti menegaskan bahwa komposisi ini dirancang agar selaras dengan lokasi dan karakteristik proyek yang dibiayai. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan risiko keuangan.
Dinamika Rating dan Dampaknya terhadap Pendanaan
Di tengah rencana penggalangan dana, Moody’s baru-baru ini menurunkan rating PT SMI dari Baa1 menjadi Ba2. Penurunan ini mencerminkan penilaian agen pemeringkat terhadap kondisi makro ekonomi global yang dinilai semakin tidak menentu.
Reynaldi mengakui bahwa penurunan rating bisa berdampak pada kemampuan perusahaan dalam mengakses dana murah dari pasar internasional. Namun, ia belum dapat memastikan secara pasti seberapa besar dampaknya karena perusahaan masih melakukan simulasi dan analisis internal.
“Pasti ada dampak. Tapi seberapa besar, kami masih menghitungnya,” ucapnya.
Meski demikian, SMI optimistis masih bisa menarik investor lokal dan regional yang memiliki keyakinan kuat terhadap prospek proyek infrastruktur berkelanjutan di Indonesia.
Strategi Pendanaan SMI Menghadapi Tantangan Global
Untuk mengantisipasi ketidakpastian global, SMI mengambil pendekatan yang lebih selektif dalam memilih mitra keuangan. Perusahaan juga meningkatkan kolaborasi dengan lembaga keuangan dalam negeri dan regional yang memiliki visi sejalan.
Selain itu, SMI terus memperkuat struktur keuangan internal untuk menjaga likuiditas dan kemampuan operasional di tengah tekanan pasar.
1. Diversifikasi Mitra Keuangan
SMI tidak bergantung hanya pada satu atau dua lembaga keuangan. Perusahaan menjalin kerja sama dengan berbagai bank dan lembaga investasi, baik domestik maupun internasional.
2. Penguatan Kapasitas Internal
Perusahaan terus meningkatkan kapasitas SDM dan sistem manajemen risiko untuk memastikan proyek-proyeknya berjalan efisien dan sesuai target.
3. Pemanfaatan Teknologi Digital
SMI juga mengintegrasikan teknologi digital dalam proses pengelolaan proyek. Ini membantu meningkatkan efisiensi dan transparansi, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi calon investor.
Tantangan dan Peluang di Tahun 2026
Tahun 2026 menjadi tahun krusial bagi SMI dalam mewujudkan target pendanaan dan realisasi proyek. Meskipun menghadapi tantangan global seperti volatilitas pasar dan penurunan rating, SMI tetap melihat banyak peluang.
Peningkatan kebutuhan infrastruktur di daerah-daerah berkembang, dukungan pemerintah terhadap proyek-proyek hijau, serta minat investor terhadap ESG (Environmental, Social, Governance) menjadi faktor positif yang bisa dimanfaatkan.
Namun, SMI juga harus siap menghadapi risiko kenaikan suku bunga global dan potensi perlambatan ekonomi dunia yang bisa memengaruhi biaya pendanaan.
Data Pendanaan dan Realisasi Proyek SMI Tahun 2026
Berikut adalah rincian target pendanaan dan alokasi dana berdasarkan sektor:
| Sektor | Target Pendanaan | Proporsi |
|---|---|---|
| Energi Terbarukan | Rp 12 triliun | 50% |
| Telekomunikasi | Rp 6 triliun | 25% |
| Pengelolaan Sampah & Air Limbah | Rp 4,8 triliun | 20% |
| Lain-lain | Rp 1,2 triliun | 5% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung dinamika pasar serta kebijakan pemerintah.
Kesimpulan
Target pendanaan Rp 24 triliun oleh PT SMI pada tahun 2026 menunjukkan komitmen kuat perusahaan dalam mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia. Dengan fokus pada energi terbarukan, telekomunikasi, dan pengelolaan lingkungan, SMI berpotensi menjadi salah satu motor penggerak investasi infrastruktur hijau.
Meskipun ada tantangan, seperti penurunan rating dari Moody’s dan ketidakpastian global, langkah-langkah strategis yang diambil oleh SMI diyakini mampu menjaga momentum pertumbuhan dan menarik minat investor.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar, regulasi, dan kebijakan korporasi. Data pendanaan dan target proyek merupakan informasi terkini namun belum tentu final.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













