Permintaan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) dari perusahaan pembiayaan terus menunjukkan tren positif menuju 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan dalam penyaluran dana, seiring dengan meningkatnya minat dari kalangan usia produktif dan masyarakat yang belum terlayani oleh sistem keuangan formal.
Peningkatan ini juga didukung oleh semakin berkembangnya ekosistem digital serta kebutuhan masyarakat akan akses keuangan yang lebih fleksibel. Tidak hanya itu, sejumlah pelaku industri juga optimistis bahwa tren ini akan terus berlanjut sepanjang tahun.
Proyeksi OJK Terhadap Pertumbuhan Paylater
OJK memproyeksikan pembiayaan BNPL dari perusahaan pembiayaan akan terus tumbuh hingga 2026. Proyeksi ini tidak muncul begitu saja, tetapi didasari oleh sejumlah faktor penting yang memengaruhi dinamika pasar keuangan digital.
Salah satu faktor utamanya adalah semakin banyaknya permintaan dari kelompok usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi secara digital. Mereka cenderung lebih nyaman menggunakan layanan keuangan digital, termasuk sistem pembayaran cicilan yang fleksibel.
Selain itu, masyarakat yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal juga menjadi segmen penting yang mulai tertarik dengan model pembiayaan ini. Hal ini membuka peluang baru bagi perusahaan pembiayaan untuk menjangkau basis pengguna yang lebih luas.
Pertumbuhan Pembiayaan Paylater di Awal 2026
Data OJK mencatat bahwa penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan pada Januari 2026 mencapai Rp 12,18 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 71,13% secara Year on Year (YoY).
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa model pembiayaan paylater semakin diterima oleh masyarakat. Kenaikan yang cukup tinggi ini juga menjadi indikator bahwa layanan ini mampu menjawab kebutuhan konsumen yang ingin memiliki fleksibilitas dalam pengeluaran.
Namun, di tengah pertumbuhan yang tinggi, OJK juga mencatat bahwa kualitas pembiayaan tetap terjaga. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa perusahaan pembiayaan semakin selektif dalam menyalurkan dana.
1. Faktor-Faktor yang Mendorong Pertumbuhan Paylater
-
Meningkatnya Permintaan dari Segmen Usia Produktif
Kelompok usia produktif merupakan pengguna aktif layanan digital. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap inovasi keuangan seperti BNPL karena menawarkan kemudahan dan fleksibilitas. -
Aksesibilitas Layanan Keuangan yang Lebih Luas
BNPL menjadi solusi bagi masyarakat yang belum terlayani oleh sistem keuangan formal. Dengan proses yang lebih sederhana, layanan ini menarik minat mereka yang sebelumnya enggan menggunakan layanan keuangan tradisional. -
Perkembangan Ekosistem Digital
Semakin banyaknya platform e-commerce dan digital payment membuat BNPL semakin mudah diakses. Integrasi layanan ini dalam berbagai aplikasi membuat pengguna semakin nyaman dalam menggunakannya.
2. Strategi Perusahaan dalam Menghadapi Tantangan
-
Penguatan Manajemen Risiko
Perusahaan seperti Akulaku Finance Indonesia fokus pada pengelolaan risiko yang ketat. Ini penting untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan di tengah pertumbuhan yang cepat. -
Penerapan Credit Scoring yang Ketat
OJK mencatat bahwa NPF (Non Performing Financing) BNPL masih terjaga di level 2,77% per Januari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa sistem seleksi nasabah semakin baik berkat penerapan credit scoring yang lebih ketat. -
Perlindungan Konsumen
Perusahaan juga semakin fokus pada aspek perlindungan konsumen. Ini menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan pengguna dan menjaga reputasi industri secara keseluruhan.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meskipun prospeknya cerah, pertumbuhan paylater juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah dinamika ekonomi makro yang masih tidak menentu. Kondisi ini bisa memengaruhi daya beli masyarakat dan berdampak pada kualitas pembiayaan.
Selain itu, persaingan di industri paylater semakin ketat. Banyak pemain baru yang masuk ke pasar, membuat perusahaan harus terus berinovasi agar tetap kompetitif.
3. Strategi Jangka Panjang untuk Pertumbuhan yang Berkelanjutan
-
Pertumbuhan yang Selektif dan Bertanggung Jawab
Perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada kualitas. Ini berarti menyalurkan pembiayaan hanya kepada nasabah yang memenuhi kriteria risiko yang telah ditentukan. -
Peningkatan Tata Kelola Perusahaan
Tata kelola yang baik menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan investor dan regulator. Ini mencakup transparansi, akuntabilitas, dan penerapan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, Governance). -
Penguatan Literasi Keuangan
OJK dan pelaku industri juga terus mendorong peningkatan literasi keuangan. Ini penting agar masyarakat bisa menggunakan layanan paylater secara bijak dan tidak terjebak pada utang yang berlebihan.
Data Perbandingan Pertumbuhan Paylater
| Parameter | Januari 2025 | Januari 2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| Total Pembiayaan BNPL | Rp 7,12 triliun | Rp 12,18 triliun | 71,13% |
| NPF Gross BNPL | 3,12% | 2,77% | -0,35% |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan laporan resmi OJK dan perusahaan pembiayaan. Nilai dapat berubah sewaktu-waktu.
Kesimpulan
Pertumbuhan pembiayaan paylater dari perusahaan pembiayaan terus menunjukkan tren positif menuju 2026. Dengan dukungan dari segmen usia produktif dan masyarakat yang belum terlayani, industri ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
Namun, tantangan seperti kondisi ekonomi makro dan persaingan yang ketat tetap menjadi perhatian. Oleh karena itu, strategi yang selektif dan bertanggung jawab menjadi kunci agar pertumbuhan ini tetap berkelanjutan dan sehat.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan regulator.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













