Musim Ramadan selalu jadi periode istimewa di kalangan pelaku usaha, terutama UMKM. Bukan cuma soal persiapan Lebaran, tapi juga peningkatan aktivitas ekonomi yang memicu lonjakan permintaan pinjaman. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pembiayaan fintech lending selalu naik tajam menjelang dan selama Ramadan. Namun di balik pertumbuhan tersebut, ada potensi risiko yang nggak boleh disepelekan, yaitu kenaikan kredit macet.
Tren ini memang sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Pada Maret 2024, penyaluran pembiayaan fintech lending naik 8,9% secara bulanan. Di Maret 2025, pertumbuhannya masih terjaga di angka 3,8%. Angka itu menunjukkan bahwa Ramadan memang jadi musim panasnya industri pinjaman daring. Tapi pertumbuhan yang cepat nggak selalu berarti sehat, apalagi kalau kualitas pinjaman mulai tergerus.
Potensi Risiko Kredit Macet Menjelang dan Pasca Lebaran
Ramadan memang jadi peluang besar bagi fintech lending untuk menyalurkan lebih banyak dana. Namun, di saat yang sama, risiko kredit macet juga cenderung meningkat. Pengamat ekonomi digital Nailul Huda memperingatkan bahwa TWP90 (Tunggakan Wilayah Pembiayaan 90 hari) bisa menyentuh level di atas 4,5% dalam 2 hingga 3 bulan setelah Lebaran. Ini bukan angka yang besar, tapi cukup signifikan kalau dibandingkan tren sebelumnya.
Salah satu penyebabnya adalah lonjakan permintaan pinjaman yang terjadi dalam waktu singkat. Masyarakat yang butuh modal tambahan untuk Lebaran atau modal usaha seringkali langsung mencari pinjaman daring karena prosesnya yang cepat. Tapi, nggak semua peminjam punya kapasitas pembayaran yang kuat. Apalagi kalau sistem verifikasi dan penilaian risiko kurang ketat.
Faktor yang Mendorong Peningkatan Pembiayaan
-
Kebutuhan Modal UMKM Musiman
Banyak pelaku usaha kecil membutuhkan tambahan modal untuk memenuhi permintaan tinggi saat Ramadan. Mulai dari stok barang, promosi, hingga operasional harian. -
Pola Konsumsi Masyarakat yang Berubah
Ramadan dan menjelang Lebaran selalu diiringi lonjakan pengeluaran. Banyak orang yang memanfaatkan pinjaman daring untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang naik secara signifikan. -
Aksesibilitas Pinjol yang Tinggi
Proses pengajuan pinjaman daring yang cepat dan mudah membuat masyarakat lebih memilih fintech dibandingkan bank konvensional, terutama yang punya riwayat sulit akses perbankan.
Data Kredit Macet Fintech Lending Awal 2026
| Bulan | TWP90 (%) | Keterangan |
|---|---|---|
| Januari 2025 | 2,52% | Level rendah sebelum lonjakan |
| Desember 2025 | 4,32% | Peningkatan jelang Ramadan |
| Januari 2026 | 4,38% | Tertinggi dalam beberapa bulan |
Angka TWP90 yang naik dari 2,52% di Januari 2025 menjadi 4,38% di Januari 2026 menunjukkan bahwa risiko mulai meningkat. Ini perlu jadi perhatian serius, terutama karena pertumbuhan outstanding pembiayaan juga masih tinggi.
Pertumbuhan Outstanding Pembiayaan Fintech Lending
| Bulan | Outstanding (Rp) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Januari 2025 | 78,50 triliun | – |
| Januari 2026 | 98,54 triliun | 25,52% |
Dengan outstanding mencapai Rp 98,54 triliun di Januari 2026, pertumbuhan tahunan mencatatkan angka 25,52%. Ini menunjukkan bahwa industri tetap eksis dan berkembang pesat, tapi juga semakin rentan terhadap risiko kredit macet kalau manajemen risiko nggak diperkuat.
Langkah yang Harus Diambil Industri
-
Peningkatan Sistem Credit Scoring
Fintech perlu memperbaiki algoritma penilaian risiko agar bisa lebih akurat menilai calon peminjam. Ini termasuk memperhatikan riwayat pembayaran, kapasitas penghasilan, dan pola konsumsi. -
Verifikasi Borrower yang Ketat
Proses verifikasi data pribadi dan usaha harus dilakukan secara menyeluruh. Ini penting untuk menghindari pinjaman yang berisiko tinggi. -
Edukasi Keuangan untuk Nasabah
Banyak peminjam yang kurang paham soal tanggung jawab pinjaman. Edukasi keuangan bisa membantu mereka membuat keputusan yang lebih bijak. -
Monitoring Pasca-Penyaluran
Setelah dana disalurkan, perlu ada sistem pemantauan berkala untuk mendeteksi dini potensi kredit bermasalah.
Waspadai Lonjakan Permintaan Pasca Lebaran
Setelah Lebaran, permintaan pinjaman biasanya tetap tinggi. Banyak orang yang menggunakan pinjaman untuk modal usaha atau kebutuhan pasca-Lebaran. Tapi, di sinilah risiko mulai meningkat. Banyak peminjam yang terlalu optimis dengan pendapatan sementara, tapi ternyata nggak sesuai harapan.
Fenomena ini sering terjadi karena masyarakat mengandalkan pinjaman sebagai solusi cepat tanpa perhitungan matang. Apalagi kalau akses ke perbankan terbatas, fintech jadi pilihan utama. Tapi tanpa kontrol yang ketat, ini bisa berujung pada lonjakan tunggakan.
Peran Regulasi dalam Menjaga Stabilitas
OJK sebagai pengawas sudah mulai mengambil langkah. Salah satunya dengan mendorong penguatan sistem internal fintech agar pertumbuhan bisa tetap sehat. Regulasi ketat tentang batas pinjaman, suku bunga, dan perlindungan konsumen juga mulai diterapkan. Tapi, tetap saja butuh kerja sama dari semua pihak agar sistem ini bisa berjalan efektif.
Kesimpulan
Ramadan memang jadi momentum penting bagi pertumbuhan fintech lending. Tapi, di balik angka positif itu, ada potensi risiko yang harus diwaspadai. Kenaikan kredit macet bisa terjadi, terutama di periode pasca Lebaran. Kuncinya ada pada seberapa baik fintech mengelola risiko dan menjaga kualitas pinjaman tetap terjaga.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi historis dan tren terkini. Nilai riil bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi ekonomi dan kebijakan regulator.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













