Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mampu memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan keluarga, khususnya dalam mengurangi beban ekonomi sehari-hari. Bukan hanya soal kenyang, MBG juga membawa manfaat lebih dalam memastikan anak-anak tetap mendapat asupan gizi yang cukup selama berada di sekolah.
Hasil riset dari Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) dan Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan bahwa kehadiran MBG memberi efek positif terhadap pengeluaran rumah tangga. Terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi rentan, program ini menjadi semacam jaring pengaman yang membantu menjaga keseimbangan anggaran bulanan.
Dampak Ekonomi dan Perubahan Kebiasaan
Sebelum adanya MBG, sekitar 48,5 persen siswa mengaku jarang atau bahkan tidak pernah sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan program ini dalam memastikan anak-anak tidak belajar dalam keadaan lapar. Fakta lain menunjukkan bahwa 85,8 persen siswa selalu menghabiskan makanan dari program MBG.
Program ini juga berdampak pada pola konsumsi keluarga secara keseluruhan. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan bahwa anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi. Sementara itu, 55 persen menyatakan anak lebih terbuka terhadap variasi jenis makanan yang disajikan.
1. Penghematan Pengeluaran Keluarga
MBG membantu keluarga menghemat pengeluaran harian. Dengan adanya makanan gratis di sekolah, beban untuk membeli jajan atau makan siang anak berkurang. Ini menjadi penting, terutama bagi orang tua yang bekerja di pagi hari dan tidak sempat menyiapkan bekal.
2. Peningkatan Kualitas Gizi Anak
Selain soal penghematan, MBG juga memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Hal ini sangat penting di usia sekolah, ketika kebutuhan nutrisi menjadi penentu pertumbuhan dan perkembangan otak.
3. Dukungan dari Orang Tua
Sebanyak 81 persen orang tua dari keluarga rentan menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan program MBG. Dukungan ini tidak hanya soal uang yang dihemat, tapi juga rasa tenang karena anak mendapat makanan bergizi secara teratur.
Tantangan dalam Pelaksanaan
Meski manfaatnya besar, pelaksanaan MBG masih menghadapi beberapa tantangan di lapangan. Karena skala program yang luas, tidak semua daerah bisa menjalankan MBG secara optimal. Masalah seperti keterbatasan infrastruktur dapur, kurangnya tenaga pengelola, dan kurangnya pengawasan mutu menjadi kendala utama.
1. Keterlibatan Sekolah dalam Perencanaan
Langkah awal yang krusial adalah melibatkan sekolah secara aktif sejak tahap perencanaan. Dengan begitu, program bisa disesuaikan dengan kondisi lokal dan kebutuhan siswa di masing-masing daerah.
2. Peran Dinas Kesehatan dalam Pengawasan
Dinas Kesehatan perlu berperan lebih aktif dalam melakukan supervisi dan pengawasan terhadap standar mutu dapur. Ini penting untuk memastikan bahwa makanan yang disajikan benar-benar sehat dan layak dikonsumsi.
3. Pendekatan Kolaboratif
MBG akan lebih efektif jika dijalankan dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat. Sinergi ini penting untuk menjaga keberlanjutan dan kualitas program.
Cerita Nyata dari Lapangan
Di SD Negeri Weetabula II, Sumba Barat Daya, NTT, program MBG memberikan dampak nyata bagi siswa dan keluarga mereka. Adriana Hedmunrewa, warga Desa Kalinawano, mengungkapkan bahwa anaknya menjadi lebih aktif dan semangat belajar sejak mengikuti program ini.
“Kalau menurut saya ini membantu sekali. Sambil menunggu jam istirahat mereka sudah makan MBG. Aktivitas belajarnya di sekolah juga jadi lebih aktif,” ujar Adriana.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa anaknya kini lebih mandiri dalam belajar, terutama dalam pelajaran matematika. Nilai rapor anaknya meningkat rata-rata delapan poin, dan secara fisik terlihat lebih segar dan berenergi.
Penutup
Program Makan Bergizi Gratis telah meletakkan fondasi kuat dalam mendukung kesehatan dan pendidikan anak-anak Indonesia. Dengan berbagai tantangan yang ada, program ini tetap memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas jika dikelola dengan baik dan melibatkan semua pihak secara aktif.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari riset yang dilakukan pada Februari hingga Maret 2026. Angka dan persentase dapat berubah seiring evaluasi lebih lanjut oleh pihak terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













