Finansial

Biaya Penghimpunan Dana Perbankan Diproyeksikan Turun pada Akhir 2025 Menuju Stabilitas Sistem Keuangan

Retno Ayuningrum
×

Biaya Penghimpunan Dana Perbankan Diproyeksikan Turun pada Akhir 2025 Menuju Stabilitas Sistem Keuangan

Sebarkan artikel ini
Biaya Penghimpunan Dana Perbankan Diproyeksikan Turun pada Akhir 2025 Menuju Stabilitas Sistem Keuangan

Biaya dana atau yang dikenal dengan Harga Pokok Dana untuk Kredit (HPDK) di sektor perbankan nasional mulai menunjukkan tren penurunan menjelang akhir tahun 2025. Penurunan ini sejalan dengan kebijakan Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan, serta kondisi likuiditas yang semakin stabil di sejumlah kelompok bank.

Penurunan HPDK tercatat dari 3,41% pada November 2025 menjadi 3,35% di Desember 2025. Angka ini mencerminkan perbaikan efisiensi pendanaan perbankan, terutama di tengah situasi di mana tekanan pendanaan mulai mereda dan persaingan bunga antarbank tidak lagi terlalu ketat.

Faktor-Faktor Penurunan HPDK di Akhir 2025

Penurunan biaya dana ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor penting yang turut memengaruhi tren tersebut, baik dari sisi kebijakan makro maupun dinamika internal perbankan.

1. Penurunan Suku Bunga Acuan BI

Bank Indonesia secara bertahap menurunkan suku bunga acuan sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang mulai pulih. Penurunan ini secara langsung berdampak pada biaya dana bank, karena bank tidak perlu lagi menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana masyarakat.

2. Likuiditas Perbankan yang Semakin Stabil

Likuiditas yang membaik membuat bank tidak lagi bersaing ketat dalam menarik dana. Dengan dana yang lebih stabil, biaya untuk mempertahankan atau menambah dana pun berkurang. Hal ini terutama terlihat pada bank BUMN dan BUSN yang mencatatkan penurunan HPDK tertinggi.

3. Penurunan Persaingan Bunga Antarnasabah

Seiring dengan membaiknya kondisi likuiditas, bank tidak lagi terlalu agresif menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana nasabah. Ini membuat biaya dana secara keseluruhan turun, terutama di segmen dana ritel dan korporasi.

Perbandingan Penurunan HPDK di Berbagai Kelompok Bank

Berikut adalah data penurunan HPDK berdasarkan kelompok bank di Desember 2025:

Kelompok Bank HPDK November 2025 HPDK Desember 2025 Perubahan
BUMN 3,24% 3,16% -8 bps
BUSN 3,45% 3,40% -5 bps
KCBA 1,66% 1,64% -2 bps
BPD 4,37% 4,40% +3 bps

Data menunjukkan bahwa bank BUMN dan BUSN menjadi pendorong utama penurunan HPDK secara nasional. Sementara itu, BPD justru mengalami kenaikan kecil, yang bisa jadi dipengaruhi oleh kebijakan pendanaan daerah yang berbeda.

Penyebab Spesifik Penurunan HPDK di BUMN dan BUSN

Perbedaan performa antar kelompok bank menunjukkan bahwa strategi pendanaan pun berbeda-beda. Berikut penyebab spesifik penurunan HPDK di dua kelompok bank utama.

1. Stimulus Penempatan Dana Pemerintah di BUMN

Bank BUMN mendapat suntikan dana langsung dari pemerintah melalui penempatan SAL (Surat Antara Lembaga). Ini membuat bank tidak perlu lagi menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana, karena likuiditasnya sudah terjamin.

2. Pertumbuhan Dana Korporasi dan Perseorangan di BUSN

Bank swasta nasional mengalami pertumbuhan Dana Pihak Ketiga () sebesar 10,03% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama berasal dari segmen korporasi dan perseorangan, yang memberikan kontribusi besar terhadap struktur pendanaan yang lebih sehat.

Dampak Penurunan HPDK terhadap SBDK

Penurunan HPDK secara langsung memengaruhi Suku Bunga Dasar Kebijakan (SBDK). Di Desember 2025, SBDK turun dari 9,11% menjadi 9,06%. Ini menunjukkan bahwa bank mulai bisa menawarkan bunga kredit yang lebih kompetitif tanpa mengorbankan profitabilitas.

Penurunan SBDK ini juga menjadi sinyal positif bagi masyarakat yang ingin mengajukan kredit. Bunga kredit yang lebih rendah berarti cicilan yang lebih ringan, sehingga meningkatkan daya beli dan akses terhadap .

Strategi Bank Menghadapi Tren Penurunan Biaya Dana

Meski biaya dana turun, bank tetap harus menjaga keseimbangan antara efisiensi dan daya tarik produk. Beberapa strategi yang diambil antara lain:

1. Fokus pada Dana Murah Jangka Panjang

Bank mulai lebih selektif dalam menarik dana. Fokusnya bukan lagi pada dana instan dengan bunga tinggi, tapi pada dana berjangka panjang yang lebih stabil dan murah.

2. Diversifikasi Sumber Pendanaan

Selain dana masyarakat, bank juga meningkatkan ketergantungan pada pendanaan lain seperti , sukuk, dan penempatan dana dari pemerintah.

3. Penguatan Teknologi dan Efisiensi Operasional

Dengan , bank bisa mengurangi biaya operasional dan beralih ke model yang lebih efisien. Ini membantu menekan biaya dana secara keseluruhan.

Proyeksi HPDK di Awal 2026

Berdasarkan tren yang terjadi di akhir 2025, diperkirakan HPDK akan terus berada di level rendah menjelang awal 2026. Namun, proyeksi ini masih bisa berubah tergantung pada kebijakan BI, kondisi makro ekonomi, dan global.

Bank yang memiliki struktur pendanaan sehat dan likuiditas kuat akan lebih siap menghadapi perubahan ini. Sementara bank dengan ketergantungan tinggi pada bunga tinggi berisiko menghadapi tekanan margin jika tren ini berlanjut.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan tren yang terjadi di akhir tahun 2025. Angka-angka yang disajikan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada , kondisi pasar, dan faktor eksternal lainnya. Pembaca disarankan untuk selalu mengacu pada data resmi dari Bank Indonesia dan otoritas terkait untuk informasi terkini.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.