Awal tahun 2026 memberi kabar baik bagi investor saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Di bulan pertama, laba bersih bank ini melesat naik hingga 85,39% year-on-year, mencatatkan angka Rp 3,72 triliun. Lonjakan ini menunjukkan momentum positif setelah tekanan pencadangan di tahun sebelumnya mulai mereda.
Meskipun laba bersih BRI sepanjang 2025 sempat turun 5,8% menjadi Rp 56,7 triliun, kondisi tersebut sudah sesuai ekspektasi pasar. Penurunan ini tak lepas dari upaya manajemen membersihkan kredit mikro lama dan antisipasi risiko bencana alam. Namun, di balik angka negatif itu, performa operasional BRI tetap menunjukkan ketahanan, dengan pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) sebesar 2,2%.
Kinerja Keuangan BBRI Sepanjang 2025
1. Laba Bersih Awal Tahun Melesat
Lonjakan laba di Januari 2026 menjadi indikator kuat bahwa BRI berhasil keluar dari tekanan pencadangan. Angka Rp 3,72 triliun ini tidak hanya mengejutkan pasar, tapi juga memperkuat keyakinan investor bahwa bank pelat merah ini punya fondasi yang solid.
2. Penyaluran Kredit Terus Melaju
Portofolio kredit BRI di akhir 2025 mencapai Rp1.521 triliun, naik 12,3% secara tahunan. Akselerasi terjadi di kuartal akhir, dengan pertumbuhan 5,8% q-o-q. Segmen korporasi, komersial, dan konsumer menjadi pendorong utama, meski segmen mikro masih bergerak hati-hati karena proses normalisasi kualitas aset.
3. Dana Murah Naik Tajam
Rasio CASA (Current Account Saving Account) BRI menyentuh level tertinggi sepanjang masa, yaitu 70,6%. Pertumbuhan dana murah ini mencapai 12,7% y-o-y, menandakan daya tarik BRI sebagai tempat simpanan nasabah tetap tinggi. Biaya penghimpunan dana pun tetap rendah, di kisaran 30–50 basis poin.
4. Margin Stabil di Tengah Normalisasi Likuiditas
Net Interest Margin (NIM) BRI di tahun 2025 tetap kokoh di angka 7,8%, melebihi panduan manajemen. Untuk 2026, proyeksi NIM berada di kisaran 7,4%–7,8%, menunjukkan bahwa BRI mampu menjaga rentabilitas meski suku bunga acuan mulai turun.
Proyeksi Laba dan Rekomendasi Saham
1. Pertumbuhan Laba Diproyeksikan Positif
Maybank Sekuritas memperkirakan laba bersih BRI akan tumbuh 7,8% di tahun 2026 menjadi Rp 61,06 triliun. Di tahun berikutnya, pertumbuhan bisa melonjak hingga 12,7%, mencatatkan laba bersih sebesar Rp 68,8 triliun. Angka ini didukung oleh portofolio kredit yang lebih sehat dan biaya operasional yang terkendali.
2. Rekomendasi Beli Saham BBRI
Dengan valuasi PBV (Price to Book Value) 2,1x untuk tahun 2026, analis Jeffrosenberg Chenlim memberikan rekomendasi buy untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.900 per saham. Ini menunjukkan bahwa saham BRI masih undervalued dibandingkan potensi kinerjanya.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Investasi saham selalu memiliki risiko. Meski prospek BRI tergolong cerah, ada beberapa hal yang patut diperhatikan:
- Pelemahan kualitas aset yang lebih lama dari perkiraan
- Kinerja segmen mikro yang belum pulih sepenuhnya
- Volatilitas makro ekonomi global yang dapat memengaruhi kinerja perbankan
Namun, dengan strategi manajemen yang konservatif dan fokus pada efisiensi, BRI diyakini mampu mengantisipasi risiko tersebut.
Data Kinerja BRI Tahun 2025
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Laba Bersih 2025 | Rp 56,7 triliun (turun 5,8%) |
| Penyaluran Kredit | Rp1.521 triliun (naik 12,3%) |
| Pertumbuhan Kredit Q4 | 5,8% q-o-q |
| Rasio CASA | 70,6% (level tertinggi) |
| NIM 2025 | 7,8% |
| Target NIM 2026 | 7,4%–7,8% |
| Laba Bersih Proyeksi 2026 | Rp 61,06 triliun |
| Laba Bersih Proyeksi 2027 | Rp 68,8 triliun |
Kesimpulan
Performa BRI di awal 2026 menunjukkan bahwa bank ini mulai memasuki fase pemulihan yang stabil. Lonjakan laba di Januari, pertumbuhan kredit yang sehat, serta efisiensi biaya membuatnya layak menjadi pilihan investasi jangka menengah hingga panjang.
Rekomendasi beli dari Maybank Sekuritas bukan sekadar prediksi optimistis, tapi hasil dari tren fundamental yang mulai menguat. Investor yang mencari saham blue-chip perbankan dengan prospek jangka panjang bisa mempertimbangkan BBRI sebagai bagian dari portofolio mereka.
Disclaimer: Data dan proyeksi di atas bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Maret 2026. Nilai riil di masa depan bisa berbeda tergantung kondisi makro ekonomi, regulasi, dan faktor pasar lainnya.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













