Finansial

Emiten Multifinance Hadapi Tekanan Laba pada 2025, Prospek Pemulihan Perlahan Muncul

Herdi Alif Al Hikam
×

Emiten Multifinance Hadapi Tekanan Laba pada 2025, Prospek Pemulihan Perlahan Muncul

Sebarkan artikel ini
Emiten Multifinance Hadapi Tekanan Laba pada 2025, Prospek Pemulihan Perlahan Muncul

Tahun 2025 jadi tantangan tersendiri bagi sektor . Banyak emiten mengalami tekanan laba, meski tidak semua merosot tajam. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, beberapa perusahaan tetap mencatatkan pertumbuhan, meski tipis. Tren ini menunjukkan bahwa industri ini sedang melalui fase , bukan kemunduran permanen.

Pergerakan laba di sektor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari daya beli yang masih lesu, hingga lonjakan biaya . Meski begitu, ada sinyal positif yang mulai muncul menjelang 2026. Stabilitas suku bunga dan pemulihan permintaan konsumsi bisa jadi katalis pemulihan.

Penurunan Laba di Tengah Stagnasi Pendapatan

Emiten multifinance besar seperti WOM Finance mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 142,55 miliar pada 2025. Angka ini turun 45,79% dibanding tahun sebelumnya. Padahal, pendapatan hanya naik tipis 0,12% menjadi Rp 2,16 triliun.

  1. Total hanya naik sedikit, dari Rp 1,81 triliun menjadi Rp 1,80 triliun.
  2. Sementara itu, beban operasional naik 8,53% menjadi Rp 1,99 triliun.

Total aset WOM Finance sendiri naik ,08% menjadi Rp 7,36 triliun. Ini menunjukkan bahwa meski laba turun, perusahaan tetap mengembangkan bisnisnya.

Adira Finance Catat Kontraksi Laba 14%

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk juga merasakan tekanan laba. Laba bersih turun 14% menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,81 triliun di 2024.

  1. Pendapatan pembiayaan konsumen naik 5% menjadi Rp 7,56 triliun.
  2. Pendapatan sewa pembiayaan melonjak 58% menjadi Rp 421,51 miliar.

Namun, beban operasional naik 6% menjadi Rp 10,14 triliun. Total aset hanya naik tipis 0,40% menjadi Rp 38,53 triliun.

Fuji Finance Alami Lonjakan Beban yang Signifikan

PT Fuji Finance Indonesia Tbk mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 24% menjadi Rp 8,35 miliar. Penyebab utamanya adalah lonjakan beban operasional hingga 340% menjadi Rp 5,55 miliar.

  1. Pendapatan naik 4,50% menjadi Rp 15,30 miliar.
  2. Pendapatan lain-lain melonjak 459% menjadi Rp 4,15 miliar.

Total aset FUJI naik 7% menjadi Rp 188,90 miliar. Meski laba turun, struktur pendapatan menunjukkan adanya diversifikasi.

Clipan Finance Alami Penurunan Tipis

PT Clipan Finance Indonesia Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 212,22 miliar, turun tipis 1,20% dari tahun sebelumnya.

  1. Pendapatan turun 9,29% menjadi Rp 1,63 triliun.
  2. Beban turun dari Rp 1,52 triliun menjadi Rp 1,36 triliun.

Total aset turun 5,83% menjadi Rp 9,53 triliun. Ini menunjukkan bahwa perusahaan lebih fokus pada dibanding ekspansi agresif.

FIF Masih Tumbuh di Tengah Lesunya Sektor

PT Federal International Finance mencatatkan laba bersih naik 4% menjadi Rp 4,63 triliun.

  1. Pendapatan naik 11,19% menjadi Rp 13,51 triliun.
  2. Beban naik 16,64% menjadi Rp 7,56 triliun.

Total aset naik 13% menjadi Rp 51,88 triliun. FIF menjadi salah satu dari sedikit emiten yang masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Faktor Penyebab Tekanan Laba di 2025

  1. Melemahnya daya beli konsumen akibat inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
  2. Perlambatan penyaluran pembiayaan baru karena selektivitas nasabah dan underwriting yang ketat.
  3. Biaya dana yang masih tinggi, terutama di tengah kenaikan suku bunga acuan.
  4. Persaingan yang ketat memaksa margin menyusut.
  5. Kenaikan beban operasional, termasuk biaya kredit bermasalah.

Peluang Pemulihan di 2026

  1. Stabilisasi suku bunga bisa menurunkan biaya dana dan mendorong permintaan kredit.
  2. Pemulihan penjualan kendaraan berpotensi meningkatkan pipeline pembiayaan.
  3. Likuiditas yang lebih longgar bisa mendorong konsumsi dan investasi.
  4. Perbaikan data wholesale kendaraan bisa menjadi katalis positif.
  5. Disiplin manajemen risiko membantu menjaga kualitas portofolio.

Rekomendasi Emiten di Tengah Transisi

  1. Pilih emiten dengan neraca kuat dan NPL terjaga.
  2. Fokus pada perusahaan yang menjaga margin meski di tengah tekanan biaya.
  3. Hindari emiten yang terlalu agresif dalam ekspansi di fase yang belum stabil.
  4. Emiten seperti ADMF dan BFIN dinilai lebih solid karena portofolio berkualitas dan manajemen risiko yang disiplin.

Proyeksi Harga Saham di Tengah Pemulihan

  • ADMF: harga Rp 10.000 – Rp 10.400 dengan potensi upside jika momentum penguatan berlanjut.
  • BFIN: Target harga Rp 900 – Rp 950 dengan pendekatan selektif menghadapi volatilitas pasar.

Disclaimer

Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro, kebijakan moneter, serta dinamika secara keseluruhan. Investasi selalu melibatkan risiko, termasuk risiko kehilangan modal.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.