Penyaluran kredit baru dari perbankan diproyeksikan bakal mengalami lonjakan di kuartal II-2026. Setelah sempat melambat di awal tahun, kini bank mulai melonggarkan syarat dan kebijakan penyaluran kredit. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Survei dari Bank Indonesia mencatat bahwa Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk penyaluran kredit baru pada kuartal II-2026 mencapai 96,65%. Angka ini jauh melonjak dari realisasi kuartal I-2026 yang hanya sebesar 38,74%. Artinya, bank mulai lebih optimis menyalurkan kredit ke berbagai segmen.
Fokus Penyaluran Kredit di Kuartal II-2026
Penyaluran kredit tidak disebar merata ke semua jenis pembiayaan. Ada beberapa segmen yang menjadi prioritas utama bank dalam menyalurkan dana. Fokus ini disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas dan pertumbuhan ekonomi saat ini.
1. Kredit Modal Kerja Jadi Prioritas Utama
Kredit modal kerja menjadi andalan utama bank dalam menyalurkan pembiayaan. Jenis kredit ini penting untuk mendukung aktivitas operasional pelaku usaha, terutama di tengah permintaan pasar yang mulai pulih.
2. Kredit Investasi dan Konsumsi Mengikuti
Setelah kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi menjadi dua segmen berikutnya yang mendapat perhatian. Keduanya berkontribusi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Kredit Konsumsi Masih Dibutuhkan
Di segmen konsumsi, kredit pemilikan rumah atau apartemen (KPR/KPA) tetap menjadi primadona. Tren ini tidak terlepas dari permintaan properti yang terus tinggi, terutama di kawasan perkotaan.
3. Kredit Multiguna dan KTA Naik Daun
Selain KPR, kredit multiguna dan kredit tanpa agunan (KTA) juga diproyeksikan meningkat. Kedua jenis kredit ini menawarkan fleksibilitas dan kemudahan akses, cocok untuk kebutuhan konsumsi individu maupun keluarga.
Sektor yang Mendapat Sentuhan Kredit Terbanyak
Penyaluran kredit tidak hanya ditentukan oleh jenisnya, tetapi juga sektor yang menerimanya. Beberapa sektor menjadi penerima kredit terbesar karena potensi pertumbuhan dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
4. Sektor Industri Pengolahan Jadi Penopang Utama
Sektor industri pengolahan menjadi penerima kredit terbesar. Sektor ini memiliki daya dorong tinggi terhadap perekonomian dan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.
5. Perdagangan Besar dan Eceran Ikut Bersinar
Perdagangan besar dan eceran juga menjadi sasaran utama penyaluran kredit. Sektor ini sangat responsif terhadap peningkatan daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi yang lebih tinggi.
6. Sektor Perantara Keuangan Turut Menyerap Kredit
Sektor perantara keuangan juga mendapat alokasi kredit yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa bank tidak hanya menyalurkan kredit ke sektor riil, tetapi juga ke sesama pelaku industri keuangan.
Kebijakan Bank yang Lebih Longgar
Peningkatan penyaluran kredit tidak terlepas dari kebijakan bank yang mulai melonggar. Indeks Lending Standard (ILS) yang diproyeksikan berada di level negatif 2,88 menunjukkan bahwa bank mulai membuka lebar pintu kredit.
7. Syarat Kredit untuk UMKM Dilonggarkan
Segmen kredit UMKM menjadi salah satu yang paling banyak mendapat sentuhan pelonggaran. Bank mulai memberikan fleksibilitas dalam hal plafon kredit, agunan, hingga suku bunga.
8. Kredit Investasi dan Modal Kerja Ikut Mengikuti
Kredit investasi dan modal kerja juga mendapat perlakuan lebih longgar. Ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya dengan lebih mudah.
Dinamika Penghimpunan Dana Pihak Ketiga
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami peningkatan. Survei menunjukkan bahwa SBT penghimpunan DPK pada kuartal II-2026 mencapai 87,85%, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
9. Tabungan, Giro, dan Deposito Semua Naik
Peningkatan DPK terjadi di semua komponen. Tabungan mencatat SBT 82,47%, giro 80,36%, dan deposito 72,70%. Artinya, masyarakat mulai kembali mempercayakan dananya ke bank.
Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan DPK Tahunan
Meski penyaluran kredit di kuartal II-2026 menjanjikan, secara tahunan pertumbuhan kredit diproyeksikan melambat. Outstanding kredit hingga akhir 2026 diperkirakan tumbuh 8,06% YoY, lebih rendah dibanding realisasi 2025 sebesar 9,69% YoY.
10. Pertumbuhan DPK Juga Lebih Rendah
Begitu juga dengan DPK, yang diproyeksikan tumbuh 8,47% YoY di akhir tahun. Angka ini lebih rendah dibanding pertumbuhan tahun lalu yang mencapai 13,83% YoY. Namun, tetap saja menunjukkan bahwa bank masih mampu menarik dana masyarakat.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Dinamika Ekonomi
Dengan kondisi ini, bank dituntut untuk tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan likuiditas. Langkah ini penting agar tetap bisa menjaga stabilitas di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh ketidakpastian.
| Komponen | SBT Kuartal II-2026 | Realisasi Kuartal I-2026 |
|---|---|---|
| Penyaluran Kredit | 96,65% | 38,74% |
| Penghimpunan DPK | 87,85% | 69,80% |
| Tabungan | 82,47% | – |
| Giro | 80,36% | – |
| Deposito | 72,70% | – |
| Sektor | Prioritas Penyaluran Kredit |
|---|---|
| 1. Industri Pengolahan | Utama |
| 2. Perdagangan Besar dan Eceran | Tinggi |
| 3. Perantara Keuangan | Menengah |
Disclaimer: Data dan proyeksi di atas bersifat prediktif dan dapat berubah tergantung pada kondisi ekonomi makro serta kebijakan Bank Indonesia di masa mendatang.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













