PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatatkan pembiayaan investasi sebesar Rp 821 miliar pada kuartal I-2026. Angka itu naik 3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa meskipun belum agresif, bisnis pembiayaan investasi CNAF tetap bergerak positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menyampaikan bahwa kondisi makro ekonomi dunia yang fluktuatif memberi tekanan tersendiri pada daya beli masyarakat. Hal ini berdampak pada laju pertumbuhan penyaluran pembiayaan investasi yang tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. Namun begitu, CNAF optimistis tren positif masih bisa dipertahankan sepanjang 2026 dengan pendekatan yang lebih selektif dan terarah.
Dinamika Pembiayaan Investasi di Tengah Ketegangan Ekonomi Global
Pertumbuhan pembiayaan investasi yang hanya 3% memang terbilang moderat. Namun, angka ini mencerminkan strategi CNAF yang mulai beralih ke model bisnis yang lebih hati-hati. Di tengah lonjakan biaya hidup dan ketidakstabilan pasar global, pendekatan selektif justru menjadi langkah bijak untuk menjaga kualitas aset dan menghindari risiko macet.
Ristiawan menambahkan bahwa fokus utama CNAF saat ini adalah menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif. Artinya, bukan semua permohonan disetujui begitu saja. Ada proses evaluasi ketat untuk memastikan bahwa dana yang disalurkan benar-benar menghasilkan dampak positif bagi penerima maupun perusahaan.
1. Evaluasi Risiko Makroekonomi
Salah satu faktor utama yang membatasi pertumbuhan pembiayaan investasi adalah situasi ekonomi global yang tidak menentu. Inflasi, kenaikan suku bunga, dan ketegangan geopolitik membuat konsumen lebih hati-hati dalam mengambil keputusan finansial besar.
2. Adaptasi Strategi Bisnis
CNAF merespons tantangan ini dengan menyesuaikan strategi operasional. Alih-alih mengejar volume penyaluran yang tinggi, fokus dialihkan pada kualitas portofolio dan efisiensi operasional.
3. Peningkatan Selektivitas Calon Mitra
Proses seleksi calon mitra atau nasabah pun diperketat. CNAF lebih memilih bekerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki track record kuat dan proyeksi keuntungan stabil.
Data Pembiayaan Multifinance di Kuartal I-2026
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total pembiayaan investasi di industri multifinance hingga Februari 2026 mencapai Rp 167,92 triliun. Angka ini turun 2,89% secara tahunan (year-on-year). Meski demikian, proporsinya tetap signifikan, yakni sekitar 32,79% dari total portofolio pembiayaan di sektor multifinance.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Total Pembiayaan Investasi Multifinance (Februari 2026) | Rp 167,92 triliun |
| Pertumbuhan YoY | -2,89% |
| Proporsi terhadap Total Portofolio | 32,79% |
Penurunan ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku industri multifinance dalam menyalurkan dana. Banyak perusahaan memilih menahan diri dari ekspansi agresif sampai situasi ekonomi lebih stabil.
Bagaimana CNAF Tetap Bisa Tumbuh?
Meskipun rata-rata industri mengalami kontraksi, CNAF justru mencatat pertumbuhan positif. Ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang mendukung performa perusahaan:
1. Diversifikasi Portofolio
CNAF tidak hanya bergantung pada satu jenis produk atau sektor. Diversifikasi ini membantu mengurangi eksposur risiko dan meningkatkan stabilitas pendapatan.
2. Digitalisasi Layanan
Perusahaan terus mengembangkan platform digital untuk mempermudah proses pengajuan dan monitoring pembiayaan. Efisiensi ini memungkinkan CNAF menjangkau lebih banyak calon nasabah tanpa harus membengkakkan biaya operasional.
3. Sinergi dengan Grup CIMB
Sebagai bagian dari CIMB Group, CNAF mendapat dukungan teknologi, sistem manajemen risiko, dan akses ke modal yang lebih baik. Ini menjadi nilai tambah kompetitif yang sulit ditandingi oleh pemain lokal lainnya.
Proyeksi ke Depan: Apakah Pertumbuhan Bisa Dipertahankan?
CNAF memproyeksikan bahwa pembiayaan investasi masih memiliki potensi tumbuh positif di sisa tahun 2026. Namun, pertumbuhan tersebut akan lebih terukur dan terfokus. Perusahaan tidak ingin terjebak pada target kuantitatif yang akhirnya malah mengorbankan kualitas.
Langkah-langkah antisipatif seperti pengawasan ketat terhadap risiko kredit, kolaborasi dengan mitra strategis, serta penguatan kapabilitas internal akan terus dilakukan. Tujuannya jelas: menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
Kesimpulan
Pertumbuhan pembiayaan investasi CNAF sebesar 3% menjadi Rp 821 miliar di kuartal I-2026 menunjukkan bahwa perusahaan tetap bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi global. Dengan pendekatan selektif dan adaptif, CNAF berhasil menjaga momentum positif tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.
Meski industri multifinance secara keseluruhan mengalami sedikit kontraksi, kinerja CNAF menunjukkan bahwa strategi yang tepat bisa menjadi kunci sukses di masa-masa sulit. Investor dan stakeholder pun punya alasan untuk optimis melihat arah kebijakan perusahaan ke depan.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga April 2026. Angka dan kondisi dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi makro dan regulasi terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













