Generasi muda saat ini hidup di tengah arus perubahan global yang begitu cepat. Dari isu iklim hingga ketimpangan ekonomi, mereka dituntut untuk tidak hanya memahami tantangan ini, tetapi juga turut serta dalam mencari solusi. Dunia membutuhkan pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga empatik dan mampu berpikir lintas budaya.
Salah satu langkah nyata dalam membentuk kepemimpinan generasi muda yang siap menghadapi tantangan global adalah melalui forum internasional seperti Asia-Pacific Young Leaders Convention (APYLC). Acara ini bukan sekadar ajang diskusi, tapi ruang kolaborasi nyata yang menghubungkan pelajar dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.
Momen Kolaborasi Generasi Muda Asia-Pasifik
APYLC 2026 menjadi sorotan karena diselenggarakan oleh Binus School Education dan diikuti oleh delegasi dari empat negara. Acara berlangsung selama lima hari, dari 20 hingga 24 April 2026, bertempat di Binus School Serpong. Tahun ini menjadi penyelenggaraan yang ke-9, menandai konsistensi dalam membangun jejaring pemuda yang peduli terhadap isu global.
Tema tahun ini, "Root for Change: Feeding Minds, Healing Communities, Empowering Futures", menggambarkan urgensi untuk membangun fondasi yang kuat dalam menghadapi tantangan dunia. Tiga pilar utama yang diangkat adalah SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth). Ketiganya menjadi fokus utama dalam diskusi dan kolaborasi antar delegasi.
1. Membangun Kesadaran Global Lewat Tema yang Relevan
Tema "Root for Change" bukan sekadar slogan. Ia mencerminkan kebutuhan mendesak akan solusi yang menyentuh akar permasalahan. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, generasi muda harus diajak untuk memahami bahwa perubahan besar dimulai dari hal-hal mendasar: kesehatan, pangan, dan pekerjaan yang layak.
Sherrierose Garcia Gonzales, Director of Binus School Education, menekankan bahwa tema ini dirancang agar peserta tidak hanya berpikir secara teoretis, tapi juga diajak untuk merancang solusi yang bisa diterapkan langsung di komunitas mereka masing-masing.
2. Menghadirkan Narasumber Berpengaruh
Salah satu highlight dari APYLC 2026 adalah kehadiran Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, sebagai pembicara utama dalam opening ceremony. Kehadirannya memberi semangat baru bagi para peserta bahwa isu-isu global bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga generasi muda.
Ia menyampaikan bahwa kolaborasi dan empati adalah dua kunci utama dalam menjawab tantangan global. “Kita tidak bisa mengubah dunia sendirian. Tapi kita bisa mulai dengan membangun pemahaman bersama,” ujar Irene dalam sambutannya.
3. Mendorong Kolaborasi Lintas Budaya
Salah satu nilai tambah APYLC adalah kesempatan bagi pelajar dari berbagai negara untuk bekerja sama dalam satu tujuan. Delegasi yang hadir berasal dari:
- Binus School Education (Indonesia)
- Kaichi High School (Jepang)
- Nan Chiau High School (Singapura)
- Changshu Lunhua Senior High School (Tiongkok)
Perbedaan latar belakang budaya justru menjadi kekuatan. Melalui diskusi dan proyek bersama, peserta belajar bagaimana melihat masalah dari berbagai perspektif dan menciptakan solusi yang inklusif.
Fokus pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Tiga tujuan pembangunan berkelanjutan yang diangkat dalam APYLC 2026 memiliki relevansi tinggi dengan kondisi global saat ini. Berikut penjabaran singkat masing-masing:
| SDG | Judul | Fokus Utama |
|---|---|---|
| SDG 2 | Zero Hunger | Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan gizi yang baik |
| SDG 3 | Good Health and Well-being | Menjamin hidup sehat dan promosi kesejahteraan bagi semua |
| SDG 8 | Decent Work and Economic Growth | Mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan pekerjaan layak |
Melalui pendekatan ini, APYLC tidak hanya menjadi ajang diskusi, tapi juga ruang edukasi yang menyentuh isu nyata. Peserta diajak untuk memahami bahwa solusi terhadap masalah global tidak bisa dipisahkan dari pencapaian SDGs.
Membentuk Kepemimpinan yang Responsif dan Empatik
Generasi muda saat ini bukan hanya calon pemimpin masa depan, tapi juga aktor utama dalam perubahan saat ini. Melalui APYLC, mereka dilatih untuk berpikir kritis, berkolaborasi secara efektif, dan mengambil inisiatif dalam menciptakan dampak.
Sherrierose Garcia Gonzales menegaskan bahwa tujuan akhir dari acara ini adalah membentuk pemimpin yang tidak hanya unggul secara intelektual, tapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. “Kami ingin peserta tidak hanya kembali dengan wawasan baru, tapi juga semangat untuk bertindak,” katanya.
1. Meningkatkan Soft Skills
Selama acara berlangsung, peserta dilibatkan dalam berbagai sesi interaktif yang dirancang untuk meningkatkan soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi lintas budaya, dan problem-solving. Ini adalah keterampilan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja global saat ini.
2. Mendorong Inovasi Sosial
Peserta juga diajak untuk mengembangkan proyek inovasi sosial yang bisa diimplementasikan di lingkungan mereka. Proyek-proyek ini tidak hanya kreatif, tapi juga berbasis pada data dan kebutuhan nyata di komunitas.
3. Membangun Jejaring Global
Salah satu hasil penting dari APYLC adalah terbentuknya jejaring antar pelajar dari berbagai negara. Ini membuka peluang kolaborasi jangka panjang yang bisa terus berkembang di luar forum ini.
Peran Sekolah dalam Membentuk Generasi Siap Global
Binus School Education menunjukkan komitmennya dalam mempersiapkan generasi muda melalui pendekatan pendidikan yang global dan inklusif. Dengan menggelar APYLC, sekolah ini tidak hanya menjadi fasilitator, tapi juga pemimpin dalam gerakan pendidikan berbasis SDGs.
Melalui berbagai program dan kegiatan internasional, Binus School Education terus mendorong peserta didik untuk tidak hanya belajar dari buku, tapi juga dari dunia nyata. Ini adalah langkah strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya siap secara akademis, tapi juga secara sosial dan emosional.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bersifat valid pada April 2026. Jadwal, peserta, dan detail acara dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kebijakan penyelenggara. Data dan fakta yang disajikan bersumber dari rilis resmi Binus School Education dan narasumber terkait.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













