Harga minyak dunia sempat melonjak tajam, namun akhirnya mulai turun setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa blokade terhadap Selat Hormuz telah diterapkan dengan intensitas yang lebih terukur. Pasca-gagalnya pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran, ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memuncak. Namun, bukannya memperketat blokade total, Trump justru mengizinkan sejumlah kapal melewati selat tersebut, yang membuka sedikit harapan akan kelancaran pasokan minyak global.
Langkah ini secara langsung memengaruhi harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent berjangka untuk Juni sempat menyentuh level tertinggi USD103,88 per barel, sebelum akhirnya turun menjadi USD99,37. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) yang merupakan benchmark minyak AS juga mengalami pola serupa, naik 2,7 persen menjadi USD99,13 per barel, turun dari puncaknya di USD105,62.
Dinamika Blokade Selat Hormuz dan Dampaknya
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya langsung terasa di pasar energi global. Blokade yang diumumkan oleh militer AS pada pukul 10:00 ET hari Senin menandai eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran.
Namun, Trump tampaknya tidak ingin memperparah situasi. Ia menyatakan bahwa 34 kapal telah melewati Selat Hormuz pada hari Minggu, angka tertinggi sejak blokade dimulai. Pernyataannya yang tegas bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memeras dunia memberi sinyal bahwa langkah-langkah yang diambil adalah untuk menjaga stabilitas, bukan memicu krisis energi global.
1. Eskalasi Konflik Pasca-Gagalnya Negosiasi
Negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan selama 21 jam berakhir tanpa hasil. Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS meninggalkan Islamabad pada Minggu pagi, membawa kabar bahwa kesepakatan tidak tercapai. Poin-poin utama yang menjadi hambatan antara lain:
- Aktivitas nuklir Iran yang terus berlanjut
- Pembukaan kembali Selat Hormuz
- Penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, termasuk Hizbullah
2. Respons Militer AS
Setelah gagalnya pembicaraan, militer AS langsung mengumumkan penerapan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran. Namun, bukannya menutup sepenuhnya, AS justru mengizinkan sebagian kapal tetap melintas. Langkah ini dianggap sebagai upaya menyeimbangkan antara tekanan politik dan kebutuhan stabilitas energi global.
3. Posisi Iran Pasca-Blokade
Iran menanggapi blokade dengan tegas. Negara itu menyatakan tidak memiliki rencana untuk kembali ke meja perundingan nuklir dengan AS. Teheran juga menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari pendiriannya, termasuk dalam hal dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan.
Dampak Blokade terhadap Pasar Minyak Global
Blokade Selat Hormuz secara otomatis memicu lonjakan harga minyak. Investor dan produsen minyak langsung merespons dengan antisipasi gangguan pasokan. Namun, setelah Trump mengklarifikasi bahwa sebagian kapal tetap diizinkan melintas, pasar mulai tenang dan harga pun turun.
Berikut adalah perbandingan harga minyak sebelum dan sesudah blokade:
| Jenis Minyak | Harga Tertinggi (USD/barel) | Harga Penutupan (USD/barel) |
|---|---|---|
| Brent | 103,88 | 99,37 |
| WTI | 105,62 | 99,13 |
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun harga sempat melonjak tajam, penurunan yang cukup signifikan terjadi setelah klarifikasi dari pemerintah AS. Ini menunjukkan bahwa pasar sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, terutama yang menyangkut jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Upaya Diplomatis dan Ancaman Militer
Meskipun Trump menyatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan apakah Iran kembali ke meja perundingan atau tidak, beberapa sumber menyebutkan bahwa negara-negara di Timur Tengah tengah berupaya menjadi mediator. Wall Street Journal melaporkan bahwa beberapa negara sedang berusaha mengatur pertemuan damai antara AS dan Iran dalam beberapa hari ke depan.
Namun, di balik upaya diplomatik tersebut, Trump juga dikabarkan sedang mempertimbangkan opsi serangan udara terbatas terhadap target militer Iran. Langkah ini tentu berisiko memicu eskalasi lebih lanjut, yang bisa berdampak pada harga minyak dalam jangka panjang.
Penutup: Ketidakpastian di Balik Stabilitas
Ketegangan antara AS dan Iran bukan hal baru. Namun, setiap kali Selat Hormuz menjadi sorotan, pasar minyak langsung merasakan dampaknya. Blokade kali ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan krisis energi global. Namun, dengan pendekatan yang lebih terukur dari AS, pasar mulai pulih.
Meski demikian, ketidakpastian tetap menghiasi horizon. Jika diplomasi gagal dan ancaman militer meningkat, harga minyak bisa kembali melonjak. Investor dan konsumen pun harus siap menghadapi volatilitas yang mungkin terjadi kapan saja.
Disclaimer: Data harga minyak dan informasi geopolitik dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













