Lonjakan produksi energi terbarukan dari PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) sepanjang 2025 mencuri perhatian. Dari catatan resmi perusahaan, total energi bersih yang dihasilkan mencapai 251,5 GWh, naik 123,9 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencatat 112,3 GWh. Angka ini menunjukkan momentum kuat dalam upaya transisi energi nasional yang tengah berlangsung.
Kenaikan yang cukup dramatis ini tak lepas dari fokus POWR pada pengembangan teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi sumber daya lokal. Strategi keberlanjutan yang dijalankan bukan sekadar retorika, tetapi telah memberi dampak nyata pada performa operasional dan reputasi perusahaan di mata publik maupun regulator.
Capaian Produksi Energi Bersih yang Menggelegak
Lonjakan produksi energi terbarukan POWR tidak terjadi begitu saja. Ada serangkaian langkah strategis yang diambil sepanjang tahun lalu untuk mendorong efisiensi dan skalabilitas sistem energi bersih mereka.
1. Peningkatan Kapasitas Biomassa
Salah satu faktor utama peningkatan produksi adalah pemanfaatan biomassa yang lebih agresif. Pada 2025, energi bersih dari biomassa mencapai 205 GWh, naik 155,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini membuktikan bahwa penggunaan limbah pertanian dan kayu dapat menjadi alternatif energi yang sangat potensial.
2. Ekspansi Pembangkit Tenaga Surya
Selain biomassa, kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) juga terus dikembangkan. Di akhir 2025, kapasitas PLTS milik POWR sudah mencapai 45,7 MWp, dengan output energi sebesar 46,3 GWh. Investasi di sektor surya ini menjadi salah satu andalan untuk diversifikasi portofolio energi bersih.
Produksi energi terbarukan yang meningkat tajam ini kemudian mendapat apresiasi langsung dari pemerintah lewat program PROPER. Dua unit pembangkit milik POWR, yakni PLTGU Jababeka dan PLTU Co-firing Babelan, berhasil meraih predikat Hijau.
Apresiasi Nasional via Program PROPER
Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup alias PROPER menjadi salah satu tolok ukur utama kinerja lingkungan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Raihan predikat Hijau dari dua unit pembangkit POWR menunjukkan bahwa praktik pengelolaan lingkungan mereka tidak hanya patuh pada aturan, tapi bahkan melebihi ekspektasi.
3. Standar Beyond Compliance
Predikat Hijau diberikan kepada perusahaan yang telah melampaui standar kepatuhan dasar atau biasa disebut beyond compliance. Artinya, POWR tidak hanya memenuhi regulasi, tetapi juga melakukan inovasi dan implementasi praktik-praktik berkelanjutan yang lebih baik dari yang ditetapkan undang-undang.
4. Kolaborasi dengan Stakeholder
Keberhasilan ini tak bisa dipisahkan dari sinergi internal dan eksternal. Kerja sama erat antara manajemen, tim lapangan, serta stakeholder lokal turut mempercepat pencapaian target lingkungan dan produksi energi bersih.
Lebih dari 5.300 perusahaan ikut serta dalam penilaian PROPER tahun 2025, namun hanya 282 yang berhasil mendapatkan peringkat Hijau atau Emas. Masuknya POWR dalam daftar tersebut menegaskan posisinya sebagai pelaku industri energi yang peduli lingkungan.
| Predikat | Unit Pembangkit | Lokasi |
|---|---|---|
| Hijau | PLTGU Jababeka | Bekasi |
| Hijau | PLTU Co-firing Babelan | Bekasi |
Komitmen ESG yang Nyata
Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan sekadar isu tren di kalangan investor global. Bagi POWR, ESG adalah landasan operasional yang harus dijalankan secara konsisten dan terukur. Dalam Sustainability Report 2025, beberapa indikator kinerja ESG menunjukkan progres positif.
5. Pilar Utama CSR
Empat pilar utama Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi fokus utama program pemberdayaan masyarakat:
- Sosial-Ekonomi: Program pengembangan usaha mikro dan peningkatan ketahanan pangan.
- Pendidikan: Beasiswa, sarana belajar, dan pelatihan keterampilan bagi generasi muda setempat.
- Kesehatan: Fasilitasi layanan medis dasar dan kampanye kesehatan preventif.
- Lingkungan: Restorasi lahan, pengelolaan sampah, dan mitigasi risiko bencana.
6. Mitigasi Bencana Berbasis Komunitas
Salah satu program unggulan adalah mitigasi bencana berbasis komunitas. Pendekatan ini dirancang agar masyarakat di sekitar lokasi operasi bisa siap menghadapi situasi darurat seperti banjir, kebakaran hutan, hingga pandemi.
Roadmap Menuju Transisi Energi Nasional
Lonjakan produksi energi terbarukan POWR bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Justru ini adalah awal dari fase baru menuju transisi energi nasional yang lebih hijau dan mandiri.
7. Target Jangka Panjang
Manajemen POWR menargetkan peningkatan kapasitas energi terbarukan secara bertahap tiap tahun. Salah satunya adalah rencana ekspansi PLTS hingga mencapai 100 MWp pada 2030 mendatang.
8. Inovasi Teknologi
Investasi dalam teknologi cerdas dan otomatisasi menjadi prioritas. Tujuannya agar efisiensi operasional terus meningkat, sementara jejak karbon tetap rendah.
9. Sinergi dengan Pemerintah
POWR juga menjalin kerja sama strategis dengan instansi pemerintah untuk mendukung kebijakan energi terbarukan nasional. Termasuk dalam hal regulasi, insentif, dan kolaborasi infrastruktur.
Data yang Perlu Diperhatikan
Berikut rangkuman data produksi energi terbarukan POWR selama dua tahun terakhir:
| Jenis Energi | 2024 (GWh) | 2025 (GWh) | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Biomassa | 80 | 205 | +155,5% |
| Tenaga Surya | 18 | 46,3 | +157,2% |
| Total | 112,3 | 251,5 | +123,9% |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi berdasarkan laporan resmi perusahaan dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Lonjakan 123% produksi energi terbarukan POWR di tahun 2025 adalah cerminan nyata dari komitmen kuat terhadap keberlanjutan. Dengan kombinasi strategi teknologi, regulasi, dan pemberdayaan masyarakat, perusahaan ini membuktikan bahwa bisnis energi bisa hijau, efisien, dan inklusif.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













