Tahun 2026 menjadi momen penting bagi industri otomotif, khususnya dalam transisi ke kendaraan listrik. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mulai merespons dinamika pasar dengan membongkar sejumlah tantangan dalam menyalurkan pembiayaan kendaraan listrik. Meski prospeknya menjanjikan, beberapa faktor masih menjadi penghambat utama.
Salah satu tantangan utama adalah lonjakan harga kendaraan listrik. Ini terjadi seiring pemerintah mencabut insentif pajak yang sebelumnya membuat mobil listrik lebih terjangkau. Selain itu, resale value atau nilai jual kembali kendaraan listrik juga belum stabil, membuat calon pembeli makin berhati-hati.
Tantangan Utama dalam Pembiayaan Kendaraan Listrik
-
Harga Kendaraan Listrik yang Meningkat
Pemerintah mencabut insentif pajak kendaraan listrik pada 2025 lalu. Dampaknya, harga mobil listrik naik hingga 15-20% tergantung merek dan modelnya. Lonjakan ini membuat permintaan dari konsumen menengah ke bawah mulai melambat. -
Resale Value yang Belum Stabil
Kendaraan listrik masih dianggap sebagai produk baru. Pasar bekasnya belum berkembang secara signifikan, sehingga nilai jual ulang kendaraan ini cenderung rendah. Ini berisiko bagi perusahaan pembiayaan karena potensi kerugian saat eksekusi agunan meningkat. -
Rendahnya Penetrasi Pasar Mass Market
Meski variasi model kendaraan listrik semakin banyak, namun segmen ini masih didominasi oleh kalangan menengah ke atas. Minat dari segmen menengah ke bawah masih rendah karena keterbatasan daya beli dan infrastruktur pengisian daya.
Prospek dan Strategi CNAF
Meski menghadapi tantangan, CNAF tetap optimistis terhadap pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik. Tercatat, hingga Februari 2026, CNAF telah menyalurkan pembiayaan mobil listrik sebesar Rp 1,86 triliun, naik 105% year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan tetap ada, meski terbatas pada segmen tertentu.
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menyebut bahwa kesadaran masyarakat terhadap green mobility mulai meningkat. Banyak konsumen kini memilih kendaraan listrik bukan hanya karena tren, tapi juga karena pertimbangan lingkungan.
Untuk memperkuat posisi di pasar, CNAF merancang beberapa strategi. Salah satunya adalah mempererat kolaborasi dengan dealer dan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Tujuannya, memastikan ketersediaan unit kendaraan sesuai permintaan nasabah.
Strategi Lain yang Diterapkan CNAF
-
Penguatan Jaringan Dealer
CNAF menjalin kerja sama lebih intensif dengan dealer untuk memastikan unit kendaraan listrik tersedia secara konsisten. Ini penting karena pasokan masih terbatas dan permintaan bisa datang sewaktu-waktu. -
Peningkatan Literasi Keuangan
Edukasi mengenai manfaat kendaraan listrik dan skema pembiayaan menjadi fokus. CNAF menggelar berbagai program sosialisasi agar masyarakat lebih paham dan tidak ragu lagi memilih mobil listrik. -
Inovasi Produk Pembiayaan
CNAF menghadirkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel, seperti tenor lebih panjang dan DP rendah. Ini dirancang untuk menarik minat konsumen dari berbagai kalangan.
Data Pembiayaan Kendaraan Listrik di 2026
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total pembiayaan kendaraan listrik oleh perusahaan multifinance mencapai Rp 21,05 triliun per Januari 2026. Angka ini naik 39,13% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sejalan dengan tren elektrifikasi kendaraan yang terus berlanjut.
| Bulan | Pembiayaan 2025 | Pembiayaan 2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|---|
| Januari | Rp 15,13 triliun | Rp 21,05 triliun | 39,13% |
| Februari | – | Rp 1,86 triliun (CNAF) | – |
Catatan: Data Februari hanya mencakup kontribusi CNAF. Data OJK untuk Februari belum dirilis secara lengkap.
Tren Elektrifikasi dan Dampaknya
Tren elektrifikasi kendaraan di Indonesia terus bergerak positif. Banyak produsen mobil besar mulai meluncurkan model baru berbasis listrik. Ini memberi peluang besar bagi perusahaan pembiayaan untuk menyalurkan kredit atau pembiayaan.
Namun, tantangan infrastruktur tetap menjadi sorotan. Jumlah stasiun pengisian daya (SPKLU) masih belum merata di seluruh Indonesia. Ini menjadi pertimbangan penting bagi calon pembeli, terutama di daerah non-metropolitan.
Kesimpulan
Meski dihadapkan pada beberapa tantangan, pembiayaan kendaraan listrik di tahun 2026 tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. CNAF dan pelaku industri lainnya terus menyesuaikan strategi agar tetap relevan dan kompetitif di tengah perubahan kebijakan dan dinamika pasar.
Dengan peningkatan literasi masyarakat, kolaborasi industri, dan dukungan kebijakan yang tepat, pembiayaan kendaraan listrik bisa terus tumbuh dan menjadi bagian penting dari transformasi transportasi nasional.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan kebijakan dan kondisi pasar.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













