Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terbatas akibat ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah mulai memberi dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasokan menjadi pemicu utama masyarakat untuk mulai beralih ke alternatif yang lebih ramah di kantong, termasuk kendaraan listrik.
Industri multifinance pun mulai melihat peluang di tengah tantangan ini. Perusahaan pembiayaan kendaraan mulai menggeser fokusnya ke segmen kendaraan listrik sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan pasar yang dinamis.
Perubahan Pasar yang Mendorong Fokus ke Kendaraan Listrik
Kenaikan harga BBM tidak hanya memengaruhi daya beli masyarakat, tapi juga mengubah pola konsumsi. Banyak konsumen mulai mempertimbangkan kembali pilihan kendaraan yang lebih hemat biaya operasional. Dalam konteks ini, kendaraan listrik muncul sebagai solusi jangka panjang yang lebih ekonomis.
Perusahaan multifinance pun mulai menyesuaikan strategi bisnisnya. Salah satunya adalah PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) yang mencatat pertumbuhan pembiayaan mobil listrik sebesar 105% secara year-on-year hingga Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap pembiayaan kendaraan listrik terus meningkat.
1. Peningkatan Permintaan Pembiayaan Kendaraan Listrik
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa total pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance mencapai Rp 21,05 triliun per Januari 2026. Pertumbuhan ini mencatatkan kenaikan sebesar 39,13% dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.
2. Strategi Multifinance dalam Menghadapi Kenaikan Harga BBM
Beberapa langkah strategis diambil oleh perusahaan multifinance untuk tetap kompetitif. Salah satunya dengan memperkuat kerja sama dengan dealer dan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) guna memastikan ketersediaan unit kendaraan listrik sesuai permintaan pasar.
3. Perluasan Portofolio ke Kendaraan Listrik
Selain itu, multifinance juga mulai mengembangkan produk pembiayaan yang lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini. Ini termasuk penawaran suku bunga kompetitif, tenor fleksibel, serta program insentif tambahan untuk pembelian kendaraan listrik.
Dampak Terbatasnya Pasokan BBM terhadap Bisnis Multifinance
Terbatasnya pasokan BBM dan lonjakan harga yang mengikuti berdampak langsung pada sektor otomotif. Permintaan terhadap kendaraan berbahan bakar konvensional cenderung menurun, sementara minat terhadap kendaraan listrik meningkat.
1. Penurunan Daya Beli Konsumen
Kenaikan harga BBM memaksa konsumen untuk lebih selektif dalam membeli kendaraan. Banyak yang mulai mempertimbangkan biaya operasional jangka panjang, bukan hanya harga beli awal. Hal ini membuat kendaraan listrik menjadi pilihan yang lebih menarik.
2. Adaptasi Bisnis oleh PT CIMB Niaga Auto Finance
Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, menyatakan bahwa perusahaan telah melakukan shifting focus ke segmen kendaraan listrik sebagai langkah antisipatif. Strategi ini tidak hanya menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga memperkuat posisi kompetitif perusahaan di tengah persaingan industri.
3. Tren Elektrifikasi Kendaraan yang Semakin Meningkat
OJK mencatat bahwa tren elektrifikasi kendaraan di Indonesia terus mengalami peningkatan. Dengan infrastruktur pengisian daya yang semakin berkembang, serta dukungan kebijakan pemerintah, multifinance melihat potensi pertumbuhan yang besar di segmen ini.
Perbandingan Data Pembiayaan Kendaraan Listrik
Berikut adalah perbandingan data pembiayaan kendaraan listrik oleh beberapa perusahaan multifinance:
| Perusahaan | Total Pembiayaan (Rp) | Pertumbuhan YoY (%) |
|---|---|---|
| PT CIMB Niaga Auto Finance | 1,86 triliun | 105% |
| Adira Finance | 17,64 triliun (hingga Oktober 2025) | 157% |
| Clipan Finance | Data belum tersedia | Strategi fokus ke kendaraan listrik |
| Industri Multifinance Lainnya | 21,05 triliun (Januari 2026) | 39,13% |
Disclaimer: Data bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan kebijakan perusahaan.
Peluang dan Tantangan di Segmen Kendaraan Listrik
Meskipun tren positif terus terlihat, multifinance juga menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan bisnis kendaraan listrik.
1. Ketersediaan Infrastruktur Pengisian
Salah satu kendala utama adalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya (charging station) di berbagai wilayah. Ini bisa memengaruhi kepercayaan konsumen dalam memilih kendaraan listrik.
2. Harga Kendaraan Listrik yang Masih Tinggi
Harga beli kendaraan listrik masih lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional. Meskipun biaya operasional lebih rendah, hal ini bisa menjadi penghalang bagi sebagian konsumen.
3. Edukasi Konsumen
Banyak konsumen masih kurang memahami keunggulan kendaraan listrik, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Edukasi menjadi kunci agar permintaan terus tumbuh.
Kesimpulan
Terbatasnya pasokan BBM dan lonjakan harga energi secara global memaksa masyarakat untuk mulai beralih ke alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Dalam konteks ini, kendaraan listrik menjadi pilihan yang semakin menarik.
Multifinance pun mulai menyesuaikan diri dengan menggeser fokus ke segmen ini. Dengan strategi yang tepat, kolaborasi yang kuat dengan mitra industri, serta edukasi yang berkelanjutan, industri pembiayaan kendaraan siap memanfaatkan momentum perubahan ini untuk tumbuh lebih besar.
Tren elektrifikasi kendaraan bukan hanya soal perubahan teknologi, tetapi juga adaptasi ekonomi dan kebijakan yang berkelanjutan. Multifinance yang mampu bergerak cepat akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













