Sejumlah negara mulai mengadopsi kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai langkah nyata untuk menekan pengeluaran dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Di tengah tantangan ekonomi global, pemerintah Indonesia juga menerapkan skema WFH satu hari per minggu. Kebijakan ini bukan sekadar respons terhadap tekanan fiskal, tapi juga bagian dari transformasi budaya kerja yang lebih adaptif dan efisien.
Langkah ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/III/2026. Tujuannya jelas: mendorong efisiensi energi, mengurangi emisi karbon, dan meningkatkan produktivitas kerja melalui digitalisasi. Dampaknya mulai terasa, terutama dalam penggunaan listrik, BBM, hingga biaya operasional gedung.
Dampak Besar dari Kebijakan WFH 1 Hari
Kebijakan WFH satu hari per pekan ternyata membawa penghematan yang signifikan. Tidak hanya dari sisi energi, tapi juga transportasi dan infrastruktur. Angka-angka yang muncul cukup mengejutkan, terutama dalam konteks pengeluaran nasional.
1. Penghematan Listrik di Gedung Perkantoran
Salah satu efek langsung dari penerapan WFH adalah berkurangnya beban penggunaan listrik di gedung perkantoran. Dengan jumlah sekitar 50.000 gedung yang menerapkan kebijakan ini, penghematan listrik mencapai rata-rata 200 kWh per gedung per hari.
Dengan tarif listrik sebesar Rp1.500 per kWh, maka penghematan harian mencapai Rp15 miliar. Jika dihitung dalam satu tahun, angka ini bisa mencapai Rp5,475 triliun. Angka ini belum termasuk efisiensi dari penggunaan pendingin ruangan, pencahayaan, dan peralatan elektronik lainnya.
2. Penurunan Konsumsi BBM
WFH juga mengurangi kebutuhan mobilitas harian. Estimasi menunjukkan sekitar 5 juta kendaraan tidak digunakan untuk berangkat kerja setiap hari Jumat. Dengan rata-rata penghematan 2 liter BBM per kendaraan, maka total pengurangan konsumsi BBM mencapai 10 juta liter per hari.
Jika harga rata-rata BBM Rp10.000 per liter, maka penghematan nasional per hari mencapai Rp100 miliar. Dalam satu tahun, total penghematannya bisa menyentuh Rp5,2 triliun.
3. Efisiensi Biaya Operasional Gedung
Selain listrik dan BBM, biaya operasional lain seperti air, kebersihan, keamanan, hingga pemeliharaan gedung juga ikut berkurang. Dengan jumlah pegawai yang bekerja dari rumah, kebutuhan fasilitas umum di kantor secara otomatis menurun.
Penghematan ini bervariasi tergantung jenis gedung dan jumlah pegawai. Namun secara umum, efisiensi biaya operasional bisa mencapai 10 hingga 15 persen per gedung. Dengan 50.000 gedung yang terlibat, total penghematan bisa mencapai ratusan miliar rupiah per bulan.
Rincian Penghematan Tahunan dari WFH 1 Hari
Berikut rincian estimasi penghematan nasional akibat penerapan WFH satu hari per pekan:
| Komponen | Penghematan Harian | Penghematan Tahunan |
|---|---|---|
| Listrik | Rp15 miliar | Rp5,475 triliun |
| BBM | Rp100 miliar | Rp5,2 triliun |
| Operasional Gedung | Rp500 juta (estimasi) | Rp182,5 miliar |
| Total | Rp115,5 miliar/hari | Rp10,8575 triliun/tahun |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi lapangan serta kebijakan yang berlaku.
Perubahan Pola Kerja Menuju Digitalisasi
WFH bukan hanya soal penghematan. Kebijakan ini juga menjadi pendorong percepatan digitalisasi di lingkungan kerja. Sistem absensi daring, kolaborasi virtual, dan manajemen tugas menjadi bagian integral dari aktivitas kerja harian.
1. Absensi Daring dan Monitoring Kinerja
Penggunaan sistem absensi online memungkinkan pelacakan kehadiran pegawai secara real-time. Ini membantu instansi memantau produktivitas tanpa harus mengandalkan kehadiran fisik penuh di kantor.
2. Kolaborasi Jarak Jauh
Platform digital seperti Zoom, Microsoft Teams, dan Google Meet menjadi alat utama dalam rapat dan diskusi kerja. Ini memungkinkan kolaborasi yang efektif meski dilakukan dari lokasi berbeda.
3. Manajemen Tugas Berbasis Aplikasi
Aplikasi manajemen proyek seperti Trello, Asana, atau Notion membantu pembagian tugas, pelacakan progres, dan evaluasi hasil kerja secara transparan.
Tantangan dan Adaptasi
Meski manfaatnya besar, penerapan WFH tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur digital di beberapa daerah. Tidak semua pegawai memiliki akses internet stabil atau perangkat yang memadai.
Selain itu, pengawasan kinerja jarak jauh juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak instansi masih beradaptasi dengan sistem evaluasi yang lebih fleksibel namun tetap akuntabel.
1. Kesiapan SDM
Tidak semua pegawai siap bekerja secara remote. Pelatihan dan pendampingan menjadi penting agar transisi WFH berjalan efektif.
2. Kebijakan yang Konsisten
Kebijakan WFH perlu didukung dengan regulasi yang jelas. Ini termasuk batasan jam kerja, tanggung jawab, hingga hak pegawai selama bekerja dari rumah.
3. Infrastruktur Teknologi
Investasi di bidang teknologi informasi menjadi kunci. Tanpa infrastruktur yang memadai, produktivitas bisa justru menurun.
Kesimpulan
WFH satu hari per pekan terbukti membawa manfaat besar, terutama dalam hal penghematan biaya dan efisiensi energi. Dengan estimasi penghematan mencapai Rp2 triliun per tahun, kebijakan ini layak menjadi bagian dari transformasi kerja jangka panjang.
Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, SDM, dan regulasi yang mendukung. Jika dikelola dengan baik, WFH bisa menjadi solusi jitu untuk mewujudkan sistem kerja yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan asumsi tertentu dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi aktual di lapangan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.












