Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menutup kunjungan kerja ke Jepang dan Korea Selatan dengan hasil yang menggembirakan. Dua negara maju Asia itu telah berkomitmen untuk menanamkan investasi senilai total Rp574 triliun ke Indonesia. Angka ini mencerminkan optimisme investor global terhadap prospek ekonomi Tanah Air meski dalam situasi geopolitik dunia yang belum sepenuhnya stabil.
Kunjungan kali ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara maju. Dari dua negara tersebut, masing-masing menyumbang komitmen investasi yang besar. Korea Selatan menyumbang Rp173 triliun, sedangkan Jepang menyusul dengan komitmen lebih besar, yaitu Rp401 triliun.
Investasi dari Korea Selatan
Kunjungan ke Seoul membuahkan hasil berupa 10 nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani dalam forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth. Forum ini dihadiri oleh Menteri Perdagangan Korea, Yo Han Ko, dan berbagai pelaku bisnis dari kedua negara.
1. Nilai Investasi dan MoU
Total investasi dari Korea Selatan mencapai USD10,2 miliar atau setara Rp173 triliun. Kesepakatan ini mencakup berbagai sektor strategis seperti energi, transisi hijau, industri, dan digitalisasi.
2. Sektor yang Dilibatkan
Beberapa sektor utama yang menjadi fokus investasi antara lain:
- Energi terbarukan (solar power, carbon capture and storage)
- Industri manufaktur (baja, baterai)
- Transportasi ramah lingkungan
- Teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI)
- Pengembangan properti dan infrastruktur, termasuk di Bumi Serpong Damai
3. Kerja Sama Baterai dan Teknologi
Kerja sama antara Kadin dan Korea Chamber of Commerce and Industry (KCCI) menjadi salah satu poin penting. Ini bertujuan memperkuat rantai pasok baterai dan teknologi, yang menjadi komoditas strategis di era ekonomi hijau.
4. Perusahaan Korea yang Terlibat
Investasi dari perusahaan besar Korea Selatan seperti Posco dan Lotte mulai menampakkan bentuknya. Posco berencana melanjutkan investasinya, sementara Lotte mengajak Danantara untuk menjadi mitra dalam pengembangan bisnisnya.
Investasi dari Jepang
Di Jepang, hasilnya tak kalah menjanjikan. Sembilan MoU ditandatangani dengan total investasi mencapai Rp401 triliun. Ini menunjukkan bahwa Jepang tetap memandang Indonesia sebagai mitra strategis di Asia Tenggara.
1. Komitmen Investasi Jepang
Investasi Jepang mencakup berbagai bidang penting seperti energi, migas, hilirisasi industri, keuangan, dan inklusi finansial. Salah satu proyek penting yang dibahas adalah pengembangan proyek Masela.
2. Peran Danantara dan Jetro
Badan Pengelola Investasi Danantara bekerja sama dengan Japan External Trade Organization (Jetro) untuk mempercepat realisasi investasi. Kemitraan ini juga melibatkan Kadin sebagai mitra strategis.
3. Proyek KF-21/IFX
Presiden Prabowo dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung membahas kelanjutan proyek jet tempur KF-21/IFX. Proyek ini telah berjalan sejak era Presiden SBY dan diteruskan oleh Presiden Jokowi. Kini, langkah teknis tengah disiapkan untuk mempercepat penyelesaiannya.
4. Sertifikasi Halal dan Perlindungan IPR
Indonesia juga mencatat kemajuan dalam bidang sertifikasi halal. Lima lembaga di Korea Selatan telah menandatangani Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan BPJPH. Selain itu, perlindungan hak kekayaan intelektual (IPR) juga menjadi bagian dari kesepakatan, memastikan bahwa investor asing mendapat perlakuan yang adil.
Potensi Energi dan Tantangan Domestik
Kerja sama energi menjadi salah satu fokus utama. Korea Selatan tertarik untuk mengurangi ketergantungan energinya dari Timur Tengah yang saat ini mencapai 70 persen. Indonesia dipandang sebagai alternatif pasokan energi, khususnya LNG dan batu bara.
Namun, hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Permintaan energi dalam negeri terus meningkat, sehingga pasokan untuk ekspor harus dikelola secara hati-hati agar tidak mengganggu kebutuhan domestik.
Peran Danantara dalam Menarik Investor
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa kehadiran badan investasi pemerintah ini memberikan dampak positif. Investor melihat bahwa Indonesia memiliki lembaga yang siap mendukung investasi besar, baik dari segi regulasi maupun fasilitas.
1. Minat Investor Asing
Sekitar 300 pengusaha besar dari Jepang hadir dalam pertemuan yang dihadiri Presiden Prabowo. Di sisi lain, 12 pengusaha Jepang dan 11 pengusaha Korea Selatan mengikuti pertemuan terbatas yang lebih intensif.
2. Pertumbuhan Investasi Tahunan
Investasi dari Korea Selatan tumbuh rata-rata 14 persen per tahun, sedangkan dari Jepang mencapai 8-9 persen per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik.
3. Ekspansi Fase Kedua
Beberapa perusahaan seperti KCC Glass dan Posco telah menunjukkan minat untuk memperluas investasinya. Ini menjadi indikator bahwa tingkat pengembalian investasi di Indonesia dinilai baik oleh pelaku bisnis internasional.
4. Kendala Perizinan dan Solusi
Salah satu tantangan utama yang disampaikan investor adalah proses perizinan lintas kementerian yang masih memakan waktu. Untuk mengatasi ini, pemerintah membentuk satuan tugas debottlenecking dan memperkuat koordinasi antar instansi. Kebijakan perizinan terbaru juga memberikan kepastian waktu layanan.
Tabel Perbandingan Investasi
| Negara | Jumlah MoU | Nilai Investasi | Sektor Utama |
|---|---|---|---|
| Korea Selatan | 10 | Rp173 triliun | Energi, manufaktur, digital |
| Jepang | 9 | Rp401 triliun | Energi, migas, industri kreatif |
Kesimpulan
Investasi senilai Rp574 triliun dari Jepang dan Korea Selatan menjadi bukti bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menjanjikan. Dukungan pemerintah melalui lembaga seperti Danantara dan kebijakan perizinan yang lebih efisien turut memperkuat daya tarik ini.
Namun, tantangan seperti keterbatasan energi domestik dan proses birokrasi masih perlu dikelola dengan baik agar potensi investasi ini bisa tumbuh lebih besar lagi ke depannya.
Disclaimer: Angka dan data dalam artikel ini bersifat sesuai informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika investasi dan kebijakan bilateral.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













