Finansial

Suku Bunga Kredit Perbankan Tetap Tinggi, Ini Penyebabnya Menurut Ekonom

Retno Ayuningrum
×

Suku Bunga Kredit Perbankan Tetap Tinggi, Ini Penyebabnya Menurut Ekonom

Sebarkan artikel ini
Suku Bunga Kredit Perbankan Tetap Tinggi, Ini Penyebabnya Menurut Ekonom

Sudah hampir setengah tahun sejak Bank Indonesia (BI) terakhir kali menurunkan BI Rate ke level 4,75% pada September 2025. Namun, penurunan itu belum diikuti dengan respons cepat dari sektor perbankan dalam menurunkan suku bunga kredit secara signifikan. Meski ada sedikit penurunan, trennya masih terasa lambat dan terbatas.

Padahal, harapan masyarakat dan pelaku usaha begitu besar. Penurunan BI Rate seharusnya menjadi awal dari transmisi kebijakan moneter yang bisa mendorong dan secara lebih luas. Tapi kenyataannya, bunga kredit masih tinggi dan belum merata menyebar ke semua segmen.

Mengapa Bunga Kredit Perbankan Masih Tinggi?

Penurunan suku bunga kredit yang lambat bukan tanpa alasan. Ada sejumlah faktor yang saling terkait dan memengaruhi kebijakan bank dalam menentukan harga pinjaman. Dari sisi makro hingga mikro, semuanya berperan.

1. Biaya Dana Bank yang Masih Tinggi

Salah satu penyebab utama adalah biaya dana (cost of fund) bank yang belum turun secara signifikan. Bank masih mengandalkan , terutama deposito, yang suku bunganya belum turun drastis. Padahal, deposito masih menjadi tulang punggung likuiditas bank.

Bunga deposito yang tinggi membuat bank harus menjaga spread agar tetap profitable. Artinya, meski BI Rate turun, jika biaya dana tetap tinggi, maka penurunan suku bunga kredit pun terbatas.

2. Kebijakan Special Rate untuk Menjaga Deposan

Bank juga masih memberikan suku bunga khusus (special rate) kepada nasabah deposito tertentu untuk menjaga loyalitas. Ini menahan penurunan bunga deposito secara keseluruhan, yang pada akhirnya memengaruhi suku bunga kredit.

3. Lag Effect Kebijakan Moneter

Ada jeda waktu atau lag effect dalam transmisi kebijakan moneter. Biasanya, butuh waktu 1 hingga 2 bulan agar penurunan BI Rate bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Namun, dalam praktiknya, efek ini tidak selalu merata ke semua segmen debitur.

4. Risiko Kredit yang Masih Tinggi

Bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit, terutama ke segmen yang dianggap berisiko tinggi. Misalnya, UMKM yang menghadapi kenaikan biaya produksi dan logistik. Ini membuat bank lebih hati-hati dan tetap mempertahankan suku bunga tinggi sebagai penyangga risiko.

5. Permintaan Kredit yang Belum Meningkat Signifikan

kredit dari masyarakat dan pelaku usaha juga belum menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Dalam situasi seperti ini, bank tidak terlalu terburu-buru menurunkan bunga karena tidak ada tekanan dari sisi permintaan.

Sektor Mana Saja yang Lebih Dulu Rasakan Penurunan Bunga?

Penurunan bunga tidak terjadi secara merata. Ada beberapa sektor yang lebih cepat menikmati penurunan suku bunga kredit, terutama yang dianggap memiliki .

1. Sektor Kebutuhan Pokok dan Pertanian

Sektor konsumsi, pertanian, dan perkebunan cenderung dianggap lebih aman. Risiko kredit di sektor ini lebih rendah, sehingga bank lebih bersedia menawarkan bunga yang .

2. Korporasi dengan Daya Tawar Tinggi

Debitur korporasi, terutama yang memiliki proyek investasi besar, juga lebih cepat menikmati penurunan bunga. Mereka punya daya tawar lebih besar dalam negosiasi dengan bank.

3. Proyek yang Didukung Pemerintah

Sektor konstruksi dan makanan yang terkait dengan belanja pemerintah juga mencatat pertumbuhan kredit yang lebih baik. Ini karena proyek-proyek tersebut dianggap lebih dan memiliki likuiditas yang lebih baik.

Data Terbaru Pertumbuhan Kredit dan SBDK

Berikut adalah data terkini pertumbuhan kredit dan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dari beberapa bank besar per Maret 2026:

Bank SBDK Rata-Rata Pertumbuhan Kredit (YoY)
8,70% 6,67%
BCA 8,90% 7,20%
Allo Bank 9,10% 5,80%

Catatan: Data ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan masing-masing bank dan dinamika pasar.

Proyeksi Pertumbuhan Kredit di Tahun 2026

Berbagai lembaga dan analis memperkirakan pertumbuhan kredit di tahun ini masih berada di kisaran 7% hingga 9%. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama karena tekanan global dan regional yang masih berlangsung.

Faktor Penahan:

  • Ketidakpastian geopolitik global
  • Kenaikan biaya operasional
  • Permintaan kredit yang belum kuat
  • Risiko kredit yang masih tinggi di sektor UMKM

Sektor Potensial:

  • seperti konstruksi rumah dan pangan
  • Sektor korporasi dengan investasi besar
  • Kredit yang didukung oleh subsidi atau skema khusus

Strategi Bank untuk Menekan Suku Bunga Kredit

Meski menghadapi tantangan, bank tidak tinggal diam. Ada beberapa langkah yang sedang atau akan dilakukan untuk menekan suku bunga kredit secara bertahap.

1. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Bank berupaya menekan biaya operasional agar bisa mengurangi beban dan memberikan ruang penurunan bunga.

2. Mencari Sumber Dana Murah

Dengan meningkatkan proporsi dana murah seperti giro dan tabungan, bank bisa menurunkan cost of fund secara keseluruhan.

3. Mempercepat Transmisi Kebijakan Moneter

Bank juga dituntut untuk lebih cepat merespons kebijakan BI agar efek penurunan BI Rate bisa dirasakan langsung oleh debitur.

Kesimpulan

Penurunan suku bunga kredit memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Ada banyak variabel yang harus diselaraskan, mulai dari biaya dana, risiko kredit, hingga permintaan pasar. Meski BI sudah memberikan sinyal, bank masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri.

Bagi pelaku usaha, terutama UMKM, situasi ini bisa menjadi tantangan tersendiri dalam mengakses pinjaman dengan bunga kompetitif. Namun, dengan strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, ada peluang untuk mendapat solusi yang lebih .

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan moneter dan kondisi pasar.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.