Dompet kering setelah Lebaran bukan cuma masalah pribadi, tapi bisa jadi cerminan dari tren ekonomi yang lebih luas. Fenomena “makan tabungan” yang terjadi pasca-Lebaran 2026 justru punya potensi menekan laju pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan. Ini bukan sekadar teori, tapi sudah mulai terlihat dari data nyata.
Mandiri Spending Index (MSI) mencatat lonjakan belanja masyarakat selama pekan ketiga Ramadan 2026. Angkanya naik 0,9% secara mingguan menjadi 123,5. Bandingkan dengan pekan sebelumnya yang hanya naik 0,6%. Kalau dilihat dari tahun ke tahun, pertumbuhan belanja mencapai 7,7%, naik dari 7,2% di periode yang sama tahun lalu. Terlihat positif, tapi belum tentu cerah kalau ditarik lebih dalam.
Tabungan Naik-Turun, Cerita yang Tak Seragam
Di tengah lonjakan konsumsi, tabungan masyarakat malah bergerak nggak seragam. Mandiri Saving Index menunjukkan bahwa kelompok bawah justru naik dari 72,8 di Februari jadi 73,6. Kelompok menengah juga naik dari 100,4 ke 102,1. Tapi yang mengejutkan, kelompok atas malah turun dari 94,3 ke 89,7.
- Kelompok bawah: Tabungan naik tipis, kemungkinan karena THR disisihkan walau sebagian besar langsung dipakai.
- Kelompok menengah: Tabungan naik sementara karena pemasukan THR, tapi belum tentu bertahan lama.
- Kelompok atas: Tabungan turun, tanda bahwa pengeluaran melebihi pemasukan, bahkan di kalangan yang punya daya beli tinggi.
Ganda Raharja Rusli, Direktur PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI), memperingatkan bahwa tren ini patut diwaspadai. Kenaikan konsumsi yang didorong oleh THR dan penggunaan tabungan bisa jadi bukan tanda ekonomi yang sehat.
“Kalau kenaikannya lebih karena inflasi pangan dan energi, itu bukan pertumbuhan yang sehat.”
Kenapa Ini Bisa Jadi Masalah?
Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB nasional. Jadi kalau pola belanja bergeser ke arah “dissaving” alias makan tabungan, dampaknya bisa dirasakan di banyak sektor.
-
Daya beli menurun setelah THR habis
Setelah lebaran dan semua THR sudah digunakan, masyarakat rentan kehabisan cadangan keuangan. -
Permintaan konsumen melambat
Kalau dompet mulai kendor, belanja rutin juga ikut turun. Ini berdampak langsung ke ritel dan UMKM. -
Investasi bisnis tertunda
Pelaku usaha yang tadinya optimis bisa menunda ekspansi karena permintaan pasar yang lesu.
Kalau tren ini berlangsung dalam 6 sampai 12 bulan ke depan, konsumsi rumah tangga bisa turun dari kisaran 5% jadi sekitar 4% sampai 4,5%. Itu angka yang cukup signifikan untuk perekonomian nasional.
Sektor Mana Saja yang Terkena Dampak?
| Sektor | Dampak | Penyebab |
|---|---|---|
| Ritel | Penjualan melambat | Daya beli turun setelah Lebaran |
| Properti | Permintaan rumah menengah ke bawah turun | Tabungan terkuras, sulit akses KPR |
| Transportasi | Pengeluaran transport harian turun | Prioritas penghematan dimulai dari hal-hal rutin |
| Manufaktur | Produksi dikurangi | Permintaan pasar menurun |
Apa Kata Pakar Soal Ini?
Ganda menjelaskan bahwa penggunaan tabungan untuk kebutuhan musiman bukan hal baru. Tapi kali ini beda, karena terjadi bahkan di kalangan atas yang biasanya lebih stabil secara finansial.
“Kalau kelompok atas mulai makan tabungan, itu artinya biaya hidup sudah melampaui pertumbuhan pendapatan mereka.”
Itu sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi sedang terjadi, bukan cuma di kalangan menengah ke bawah. Ini bisa jadi awal dari siklus konsumsi yang lebih lambat.
Tips Biar Nggak Kehabisan di Pertengahan Tahun
-
Buat anggaran realistis setelah Lebaran
Jangan langsung habiskan THR begitu dapat. Sisihkan sebagian untuk kebutuhan mendadak. -
Bangun kebiasaan menabung otomatis
Alokasikan sebagian THR ke tabungan terpisah yang bisa diakses kalau benar-benar darurat. -
Hindari gaya hidup konsumtif pasca-Lebaran
Fokus pada kebutuhan pokok dan hindari pengeluaran impulsif. -
Gunakan cicilan bijak
Kalau harus belanja besar, pastikan cicilannya sesuai dengan kemampuan bulanan. -
Evaluasi pengeluaran tiap bulan
Cek rutin apakah pengeluaran masih proporsional atau sudah mulai terlalu tinggi.
Kesimpulan
Fenomena “makan tabungan” pasca-Lebaran 2026 bukan cuma soal gaya hidup, tapi juga indikator ekonomi yang perlu diperhatikan. Kalau terus berlanjut, bisa bikin roda ekonomi berputar lebih pelan. Terutama kalau konsumsi rumah tangga yang punya andil besar di PDB ikut melambat.
Yang penting, kesadaran finansial perlu dibangun dari individu sampai kebijakan makro. Supaya tren negatif ini nggak jadi awal dari perlambatan ekonomi yang lebih panjang.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersumber dari informasi publik dan indeks keuangan internal bank swasta per April 2026. Nilai dan tren bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makro ekonomi.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













