Sejumlah pejabat di jajaran direksi dan dewan komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menunjukkan kepercayaan mereka terhadap prospek perusahaan dengan melakukan pembelian saham di pasar sekunder. Transaksi ini terjadi secara bersamaan pada 25 Maret 2026, di tengah koreksi harga saham BCA sepanjang tahun.
Dalam catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), keenam eksekutif tersebut membeli saham BBCA di harga Rp 6.982 per saham. Harga ini mencerminkan penurunan sekitar 13% sejak awal tahun. Meski demikian, langkah kolektif mereka dianggap sebagai sinyal optimisme terhadap kinerja jangka panjang bank terbesar di Indonesia tersebut.
Pejabat BCA Borong Saham di Harga Terkoreksi
Langkah pembelian saham oleh para eksekutif BCA bukanlah hal yang baru. Namun, transaksi kali ini cukup mencolok karena dilakukan oleh lima anggota direksi dan satu anggota dewan komisaris secara bersamaan. Semua pembelian dilakukan dengan tujuan investasi jangka panjang, menunjukkan keyakinan terhadap fundamental perusahaan meski harga saham sedang dalam tekanan.
1. Hendra Lembong Tambah Posisi dengan Dana Rp 7,93 Miliar
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, memimpin daftar dengan membeli 1,13 juta unit saham BBCA. Total nilai transaksi mencapai Rp 7,93 miliar. Setelah transaksi ini, kepemilikannya naik menjadi 2,67 juta unit saham atau setara 0,002% hak suara.
2. John Kosasih Borong Saham Senilai Rp 4,37 Miliar
Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, juga tidak ketinggalan. Ia membeli 626.000 unit saham senilai Rp 4,37 miliar. Kepemilikannya kini mencapai 1,72 juta unit atau 0,001% hak suara.
3. Santoso Tambah Investasi Sebesar Rp 3,46 Miliar
Direktur BCA lainnya, Santoso, menyerok 495.000 unit saham. Dana yang digunakan sebesar Rp 3,46 miliar, sehingga total kepemilikannya menjadi 3,76 juta unit atau 0,003% hak suara.
4. Vera Eve Lim Keluarkan Rp 3,84 Miliar
Vera Eve Lim, Direktur BCA, membeli 550.000 unit saham senilai Rp 3,84 miliar. Dengan transaksi ini, total saham yang dimilikinya menjadi 3,28 juta unit atau 0,003% hak suara.
5. Tan Ho Hien Tambah Porsi Saham dengan Dana Rp 4,32 Miliar
Tan Ho Hien, Direktur BCA, menambah kepemilikan saham sebanyak 619.000 unit. Total investasinya mencapai Rp 4,32 miliar, dan kini ia memiliki 11,79 juta unit saham atau 0,01% hak suara.
6. Komisaris Tonny Kusnadi Ikut Menyerok Saham
Tonny Kusnadi, anggota dewan komisaris, juga membeli 318.000 unit saham senilai Rp 2,22 miliar. Total saham yang dimilikinya kini mencapai 7,82 juta unit atau 0,006% hak suara.
Total Dana yang Digelontorkan oleh Pejabat BCA
Transaksi kolektif ini melibatkan dana yang tidak sedikit. Berikut rincian total dana yang digunakan oleh keenam eksekutif BCA dalam pembelian saham:
| Nama | Jumlah Saham Dibeli | Total Dana (Rp) |
|---|---|---|
| Hendra Lembong | 1,13 juta unit | 7,93 miliar |
| John Kosasih | 626.000 unit | 4,37 miliar |
| Santoso | 495.000 unit | 3,46 miliar |
| Vera Eve Lim | 550.000 unit | 3,84 miliar |
| Tan Ho Hien | 619.000 unit | 4,32 miliar |
| Tonny Kusnadi | 318.000 unit | 2,22 miliar |
| Total | 3,738.000 unit | 26,14 miliar |
Angka ini menunjukkan komitmen kuat dari manajemen BCA terhadap nilai perusahaan. Meski pasar sedang tidak ramah, mereka tetap optimis terhadap kinerja bank di masa depan.
Reaksi Pasar dan Pergerakan Saham BCA
Harga saham BBCA pada Kamis (26/3/2026) kembali terkoreksi 0,36% menjadi Rp 6.875. Namun dalam rentang waktu satu minggu, harga saham ini justru mengalami kenaikan sebesar 1,48%. Meskipun demikian, sepanjang tahun, saham BCA masih berada di zona merah dengan penurunan sekitar 13%.
Investor ritel dan institusi mungkin melihat langkah pembelian saham oleh para eksekutif ini sebagai sinyal positif. Namun, tetap saja, keputusan investasi harus didasarkan pada analisis yang lebih komprehensif.
Apa Makna dari Pembelian Saham oleh Pejabat BCA?
Langkah pembelian saham oleh para eksekutif BCA bisa diartikan sebagai bentuk komitmen terhadap perusahaan. Mereka menunjukkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang BCA meski saat ini pasar sedang tidak ramah.
Selain itu, transaksi ini juga bisa menjadi indikator bahwa manajemen melihat nilai intrinsik saham BCA masih tergolong murah. Apalagi jika dilihat dari rasio-rasio fundamental seperti PBV dan PER yang relatif rendah dibandingkan bank sejenis.
Namun, investor tidak boleh hanya mengandalkan langkah ini sebagai dasar investasi. Perlu melihat lebih dalam lagi, mulai dari kinerja keuangan, prospek bisnis, hingga kondisi makro ekonomi yang sedang berjalan.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan regulasi yang berlaku. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi ulang melalui sumber resmi seperti Bursa Efek Indonesia atau laporan resmi emiten.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













