Harga minyak dunia sempat terperosok tajam dalam perdagangan awal pekan ini. Brent, salah satu benchmark minyak global, tercatat turun hingga USD100 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Kabar ini langsung memicu sentimen positif di pasar komoditas energi.
Langkah Trump yang lebih diplomatis disambut baik oleh investor. Ia menyebut pembicaraan dengan Iran dalam dua hari terakhir berjalan “sangat baik dan produktif.” Sentimen ini mendorong ekspektasi bahwa ketegangan di Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak global, bisa segera mereda.
Penyebab Turunnya Harga Minyak
Pergerakan harga minyak selalu erat dengan situasi geopolitik. Kali ini, faktor utamanya datang dari ketegangan Timur Tengah yang sempat memicu lonjakan harga.
1. Penundaan Serangan Militer AS ke Iran
Ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran sempat membuat harga minyak melonjak. Namun, keputusan Trump untuk menunda operasi militer memberi ruang bagi investor untuk kembali tenang. Pasar bereaksi cepat karena risiko gangguan pasokan global berkurang.
2. Prospek Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak global. Ketika jalur ini terancam, harga minyak langsung naik. Namun, dengan adanya pembicaraan damai, ekspektasi bahwa jalur ini akan kembali beroperasi normal mendorong harga turun.
Dampak pada Pasar Minyak Global
Penurunan harga minyak tidak hanya terjadi di pasar berjangka. Harga ritel bahan bakar juga berpotensi terpengaruh, meski tidak langsung secepat harga di pasar internasional.
1. Brent Turun 11 Persen
Harga minyak Brent yang biasa menjadi acuan global turun hingga 11 persen, dari USD113 menjadi sekitar USD100 per barel. Ini merupakan penurunan terbesar dalam beberapa pekan terakhir.
2. WTI Turun 9 Persen
West Texas Intermediate (WTI), benchmark minyak AS, juga ikut terperosok. Harganya turun sekitar 9 persen, mencatatkan angka sekitar USD89 per barel.
Perbandingan harga minyak sebelum dan sesudah penurunan:
| Jenis Minyak | Harga Sebelum (USD/Barel) | Harga Sesudah (USD/Barel) | Persentase Penurunan |
|---|---|---|---|
| Brent | 113 | 100 | 11% |
| WTI | 98 | 89 | 9% |
Reaksi Pasar dan Sentimen Investor
Investor bereaksi cepat terhadap perkembangan geopolitik. Ketika ketegangan mereda, ekspektasi terhadap stabilitas pasokan minyak meningkat. Namun, belum semua risiko sepenuhnya hilang.
Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth, menyebut bahwa pasar masih akan mengurangi premi risiko dalam waktu dekat. Namun, volatilitas masih mungkin terjadi karena ketidakpastian soal kapan jalur pelayaran di Selat Hormuz bisa benar-benar aman.
Faktor yang Masih Menghantui Harga Minyak
Meski harga sudah turun, ada beberapa faktor yang masih bisa memicu kenaikan kembali.
1. Ketidakpastian Jalur Pelayaran
Selat Hormuz belum sepenuhnya aman. Sampai ada kepastian bahwa kapal bisa melintas tanpa risiko, investor masih akan memperhitungkan potensi gangguan.
2. Perubahan Kebijakan AS atau Iran
Kebijakan luar negeri yang berubah-ubah bisa memicu volatilitas. Jika Trump kembali mengambil langkah keras, atau Iran merespons dengan eskalasi, harga minyak bisa langsung naik lagi.
3. Permintaan Global yang Fluktuatif
Permintaan minyak global juga tetap menjadi faktor penting. Jika ekonomi global melambat, permintaan bisa turun. Namun jika pulih lebih cepat dari ekspektasi, harga bisa naik lagi.
Proyeksi Jangka Pendek Harga Minyak
Dalam jangka pendek, harga minyak diperkirakan akan bergerak stabil selama ketegangan di Selat Hormuz tidak kembali memanas. Namun, tetap ada potensi koreksi ke atas jika muncul kejutan geopolitik.
1. Brent Diproyeksikan di Kisaran USD95–105
Jika situasi tetap kondusif, harga Brent bisa berada di kisaran USD95 hingga USD105 per barel dalam beberapa pekan mendatang.
2. WTI Diproyeksikan di USD85–95
Sementara itu, WTI diperkirakan akan berada di kisaran USD85 hingga USD95 per barel, tergantung sentimen pasar dan data ekonomi AS.
Disclaimer
Harga minyak sangat rentan terhadap perubahan situasi geopolitik dan ekonomi global. Data dalam artikel ini bersifat terkini hingga Maret 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan di lapangan. Investasi dan keputusan bisnis terkait harga minyak sebaiknya disesuaikan dengan kondisi terkini dan analisis mendalam.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.












