Bank Indonesia (BI) tengah waspada terhadap potensi dampak eskalasi konflik di Timur Tengah. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa bank sentral siap melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Respons BI akan disesuaikan dengan tiga skenario berdasarkan seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh konflik tersebut, terutama terhadap harga minyak global dan arus keuangan internasional.
Langkah-langkah ini diambil mengingat ketidakpastian global yang semakin tinggi. BI tidak hanya fokus pada intervensi langsung di pasar valuta asing, tapi juga memperkuat cadangan devisa serta mempertahankan kebijakan suku bunga agar tetap mendukung stabilitas ekonomi dalam negeri.
Tiga Skenario Dampak Konflik Timur Tengah
Perang di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga minyak. BI telah menyiapkan tiga skenario dampak yang mungkin terjadi. Setiap skenario akan memengaruhi langkah-langkah kebijakan yang diambil oleh bank sentral.
1. Skenario Rendah: Harga Minyak Dunia Stabil
Dalam skenario ini, harga minyak mentah dunia tidak mengalami lonjakan signifikan. Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi global dan inflasi juga terbatas. BI akan tetap menjaga cadangan devisa dan melakukan intervensi ringan di pasar valuta asing jika diperlukan.
2. Skenario Menengah: Harga Minyak Naik Moderat
Jika harga minyak naik secara moderat, BI akan meningkatkan intensitas intervensi. Langkah ini mencakup pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder dan intervensi di pasar domestik maupun offshore. Kebijakan suku bunga juga akan dievaluasi secara ketat.
3. Skenario Tinggi: Lonjakan Harga Minyak dan Volatilitas Pasar
Pada skenario terburuk, BI akan melakukan intervensi penuh menggunakan ketiga instrumen utama. Ini termasuk intervensi di pasar NDF, DNDF, dan spot. Cadangan devisa akan digunakan secara lebih aktif untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil.
Instrumen Intervensi BI yang Dipersiapkan
BI menggunakan pendekatan multi-instrumen untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil. Berikut adalah tiga instrumen utama yang digunakan:
-
Intervensi di Pasar Offshore (NDF)
Instrumen ini digunakan untuk mengendalikan ekspektasi nilai tukar di pasar luar negeri. -
Intervensi di Pasar Domestik (Spot dan DNDF)
Intervensi langsung di pasar dalam negeri untuk menstabilkan permintaan dan penawaran rupiah. -
Pembelian SBN di Pasar Sekunder
Langkah ini membantu menyerap likuiditas dan memperkuat posisi fiskal pemerintah.
Dampak Global yang Perlu Diwaspadai
Selain harga minyak, ada beberapa faktor eksternal yang bisa memperburuk tekanan terhadap rupiah. BI memperhatikan arus modal asing, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Arus Modal Keluar dari Pasar Emerging
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, rentan terhadap volatilitas arus modal. Saat investor mencari safe haven, dana cenderung keluar dari pasar emerging market dan mengalir ke aset-aset lebih aman seperti obligasi AS.
Penguatan Dolar AS
Dolar AS menguat akibat kenaikan suku bunga The Fed. Penguatan ini memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. BI harus bekerja lebih keras untuk menjaga agar rupiah tidak melemah terlalu dalam.
Inflasi Global yang Meningkat
Lonjakan harga minyak juga mendorong kenaikan inflasi global. Inflasi yang tinggi mempersempit ruang gerak bank sentral untuk menurunkan suku bunga, karena risiko daya beli masyarakat akan semakin tergerus.
BI Rate Dipertahankan untuk Stabilitas
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026, BI memutuskan untuk tidak menurunkan BI Rate. Keputusan ini diambil sebagai antisipasi terhadap ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Suku Bunga BI Rate Tetap di 4,75%
- BI Rate: 4,75%
- Deposit Facility Rate: 3,75%
- Lending Facility Rate: 5,50%
BI menilai bahwa menjaga suku bunga pada level saat ini akan memberikan ruang bagi intervensi yang lebih kuat. Selain itu, langkah ini juga mendukung upaya menjaga cadangan devisa tetap mencukupi.
Penundaan Penurunan Suku Bunga
Sebelumnya, BI sempat menurunkan suku bunga sebanyak 150 basis poin sejak September 2024. Namun, sejak Oktober 2025, BI memilih untuk mempertahankan BI Rate. Dengan kondisi global yang semakin tidak menentu, langkah ini dinilai sebagai langkah preventif yang tepat.
Tabel Perbandingan Skenario Dampak dan Respons BI
| Skenario | Harga Minyak | Inflasi Global | Intervensi BI | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Rendah | Stabil | Rendah | Ringan | Fokus pada pengawasan pasar |
| Menengah | Naik moderat | Meningkat | Sedang | Evaluasi suku bunga |
| Tinggi | Lonjakan tajam | Tinggi | Penuh | Gunakan cadangan devisa |
Menjaga Stabilitas Jangka Panjang
BI tidak hanya fokus pada respons jangka pendek, tapi juga menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Sasaran inflasi untuk periode 2026-2027 masih dipertahankan di kisaran 2,5% plus minus 1%. Ini menunjukkan bahwa BI tetap komitmen menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi makro.
Kecukupan Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia saat ini masih mencukupi untuk menghadapi tekanan eksternal. BI terus memantau perkembangan global agar bisa mengambil langkah cepat jika diperlukan.
Evaluasi Kebijakan Berkelanjutan
BI juga menyatakan bahwa kebijakan moneter akan terus dievaluasi sesuai dinamika global. Ini menunjukkan bahwa bank sentral siap beradaptasi dengan perkembangan situasi yang tidak terduga.
Disclaimer
Data dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat sesuai dengan kondisi hingga Maret 2026. Informasi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan situasi global dan kebijakan Bank Indonesia.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













